Laut Adalah Kita

oleh -78 views
Link Banner

Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan dan Jurnalis

A. Laut  Dalam Falsafah Ternate

Upaya memahami sudut pandang filosofis terutama laut sebagai wilayah kosmis dalam filsafat Ternate akan dapat ditempuh melalui upaya menelusuri makna yang terkandung dalam simbol Goheba Dopolo Romdidi yang merupakan lambang kesultanan Ternate. Selanjutnya, upaya ini akan dapat memberikan titik terang bagi kita dalam merumuskan jawaban atas pertanyaan dari mana sumber kebudayaan Maloko Kie Raha itu berasal.

Simbol ini berbentuk burung mitologik, yaitu seekor burung elang laut berkepala dua dan berhati satu, dinamakan “GOHEBA”. Lambang Kie Raha ini merupakan objektivasi dari filsafat Jou Se Ngofa Ngare. Yang bisa diterjemahkan sebagai AKU dan ENGKAU. Karena adanya Ua Hang Moju, yang juga dinamakan “Alam La” atau “Alam Ketiadaan” maka dapat kita katakan bahwa “aku dan Engkau” berada dalam satu tempat.

Maka menurut hukum logika, dapat artikan pertanyaan “Toma ua hang moju” sbb: Yakni bahwa” Toma ua hang moju” mengarah kepada waktu yang spatial dan ruang yang temporal dalam arti bahwa waktu yang spatial dan ruang yang temporal berada diluar kosmos (universe) karena adanya :ua hang moju. Jika kita hubungkan dengan firman Tuhan dalam Al-Quran Surat Al Insan Ayat 1-2, yang berbunyi: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut“.

Akal kita dapat menerima bahwa toma ua hang moju disini adalah “satu waktu dari masa”. Maka secara kosmogonis pertanyaan kita menjadi “Pada suatu tempat yang berada diluar ruang dan waktu objektif, apa yang terlebih dahulu eksis”. Sehingga pertanyaan ini pada dirinya menerangkan bahwa ada sesuatu diluar ruang dan waktu objektif. Pertanyaan ini memerlukan jawaban yang berusaha menetapkan titik tolak pemikiran tentang asal usul penciptaan alam ini.

Berbunyi: “TOMA UA HANG MOJU TOMA LIMAU GAPI MA TUBU – KOGA IDADI SOSIRA- Jawabannya adalah JOU SE NGOFANGARE”.

Artinya: “Pada satu waktu dari masa, pada suatu tempat yang tertinggi “(LAUH-AL MAHFUDZ), apa yang mendahului ada “Aku dan Engkau”.

“GUDU MOJU SI TO SUBA RI JOU SI TO NONAKO” artinya “Aku menyembahnya karena aku sudah mengenalnya”. Pepatah Arab mengatakan : “Man ‘arafa Nafsuhu faqad ‘arafa Rabbahu”. Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhan-Nya.

Baca Juga  Puasa

Ini berkaitan erat dengan firman yang mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembahNya. Dalam Al Qur’an Allah SWT Berfirman : wamaa khalaqtul Jinna wal Insa Illa Liya’buduun. Dan tidaklah kami menciptakan Jin dan Manusia, melainkan untuk beribadah kepadaku. Kemudian Islam masuk ke Ternate (baca KIE RAHA), dan mengajarkan asas Islam ialah dua kalimat Syahadat dalam bahasa Arab: “Asyahadu alla ilaha ilallah wa aasyahadu anna Muhammdar Rasulullah”. Ternyata sesuai dengan asas Jou Se Ngofangare.

Dengan demikian, maka dapat ditarik benang merah bahwa upaya merenungkan hasil jangkauan akal manusia akan hakikat keberadaannya di muka bumi ini yang mencakup hubungannya dengan Allah selaku Khalik yang menciptakan, hubungannya dengan manusia yang lain serta hubungannya dengan alam dalam menemukan tata cara atau pedoman melaksanakan interaksi dengan dunia luar dirinya bermuara pada falsafah “Jou Se Ngofa Ngare” sebagai suatu system nilai yang perlu diwujudkan dalam kehidupannya.

Sumber kebudayaan Moloku Kie Raha berasal dari falsafah hidup Jou Se Ngofa Ngare yang merupakan implementasi dari akar budaya asli orang Ternate itu sendiri, yaitu; “Adat ma toto agama, Agama ma toto toma Jou Rasulullah, Jou Rasulullah manyeku Diki Amoi nga hidayah se kodrati”. (Adat bersumber dari agama, agama bersumber dari ajaran Rasullulah, dia atas Rasulullah hanya hidayah dan kehendakNYA atas segalanya

Oleh sebab masyarakat menyakini bahwa semua sumber kehidupan berasal dan berawal dari laut (Lauh-Al mahfudz) sebagaimana konsep TOMA UA HANG MOJU TOMA LIMAU GAPI MA TUBU, KOGA IDADI SUSIRA – JOU SE NGOFANGARE”, maka kemudian dapat kita lihat implementasinya dalam  kehidupan bernegara maupun masyarakat:

  1. Lambang Negara burung elang berkepala dua (Goheba) laki-laki dan perempuan dimana burung elang laki-laki adalah elang darat dan burung elang perempuan adalah elang laut.
  2. RORASA yang disampaikan sebagai prakata Penobatan Sultan….. tentang Maloko Kie Raha, Temate dan Tidore, Bacan dan Jailolo beserta wilayah kekuasaanmu di utara terjauh: Sulu dan Mindanao, utara terdekat: Morotai dan Morotia, di selatan terjauh: Bima dan Manggarai, dan selatan terdekat: Sula dan Taliabu.
  3. Dalam struktur pemerintahan jabatan tertinggi Militer dipegang oleh “KAPITA LAO” Kesultanan-Kesultanan di Maluku juga hanya memiliki satu angkatan perang yakni angkatan laut. 
  4. Pakaian dapat dilihat dari topi/kopiah adat yang berbentuk mirip perahu dengan layar.
  5. Perkawinan dimana ikan disimbolkan sebagai lambing kesuburan perempuan. Dlsb
Baca Juga  Konsisten Cegah Covid-19, Brimob Maluku Semprotkan Cairan Disinfektan

B. Laut, Indonesia dan Kita
Tanah Maluku yang membentang sepanjang tepian Pacific, dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, baik sektor pertambangan terutama perikanan dan kelautan, maupun sektor lain seperti minyak bumi dan kehutanan. Asumsi hukum alam, “negeri kaya rakyatnya sejahtera” ternyata hingga puluhan tahun kemudian tidak terbukti.

Kekayaan Tanah Maluku yang dibesar-besarkan ternyata hanya sebatas kebanggaan semu. Nyatanya sumber daya alam yang melimpah tersebut setelah dieksploitasi hanya sedikit yang kembali ke daerah. Senyataannya persentase kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan infrastruktur adalah fakta yang membentang dari ujung halmahera sampai tenggara jauh hingga hari-hari ini.
Kebijakan pemerintahan yang sentralistik menyebabkan posisi tawar pemerintah daerah untuk mengelola sumber daya alamnya sangat rendah. Ironis memang, dibalik kebesaran sejarah, budaya dan kelimpahan sumber daya Alam, Tanah Maluku tetaplah catatan panjang tentang keterbelakangan.

Padahal sejak dulu atau sekitar abad ke-15, Tanah Maluku dikenal sebagai daerah penghasil rempah rempah yang sangat kaya. Hal itu di yakini sebagai salah satu faktor mengapa orang-orang Eropa datang nencari kepulauan rempah-rempah ini dan kemudian menjajah bangsa Indonesia. Selain kaya akan sumber daya alam, tanah Maluku juga kaya akan keberagaman budaya dan adat istiadat yang beraneka ragam.

Dari catatan sejarah , sebelum Indonesia merdeka, Maluku adalah Negara-negara yang berdaulat dibawah kekuasaan kesultanan- kesultanan. Ada sekitar empat (4) Kesultanan (kerajaan) yang berkuasa dan berpengaruh sampai saat ini di Maluku ialah Kesultanan Ternate, kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo dan kesultanan Bacan serta terdiri juga dari berbagai suku/etnis yaitu suku Ternate, Tidore,Tobelo, Galela, Sahu, Makian, Sanana, Seram, Kei, Tanimbar, Ambon- Lease, Buru, Banda dan masih banyak lagi. Maluku sarat akan keberagaman dan tatanan sosial local. Maka tidak mengherankan jika Van Vollenhoven, seorang pakar hukum adat dari Belanda mencatat bahwa Maluku ialah salah satu wilayah kesatuan kesatuan masyarakat adat di Indonesia (dulu Hindia Belanda).

Baca Juga  Memaknai Kekuasaan

Pada saat kemerdekaan, Maluku bergabung dengan Negara Kesatuan Indonesia sebagai Provinsi kedelapan. Namun sampai kini, kepulauan yang kaya akan rempah-rempah ini masih tertinggal jauh dibanding daerah-daerah lain di Indonesia. Hal ini disebabkan karena kebijakan pemerintah pusat terkait distribusi anggaran pembangunan ke daerah sejauh ini masih menggunakan pendekatan kontinental. Pendekatan ini menghitung jumlah penduduk dan luas daratan sebuah wilayah. Padahal, Maluku-Maluku Utara merupakan wilyah kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah laut.

Maluku-Maluku Utara yang terdiri dari ribuan pulau seharusnya dimaknai sebagai penghubung bukan sebagai pemisah. Kondisi geografis Maluku-Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau, sulit dibangun jika kebijakan pembangunan masih menggunakan pendekatan kontinental. Dengan kebijakan itu, jumlah anggaran yang didapat Maluku-Maluku Utara sangat kecil bahkan tidak sebanding dengan satu kabupaten/kota di Jawa.

Secara geografis, Maluku terletak jauh dari Jawa, jarak antara Jakarta Ternate atau Jakarta Ambon menembus jarak ribuan kilo meter. Lebih jauh lagi, perbedaan sosial-budaya Maluku sebagai pinggiran dengan Jawa sebagai pusat juga menghasilkan komunikasi politik yang penuh salah-paham. Jakarta dan Ternate juga Jakarta dan Ambon tidak hanya jauh secara geografis tetapi juga secara psiko-politis. Belum lagi kalau kita bicara soal kesenjangan pembangunan, pemerataan kesejahteraan, dan pemenuhan hak-hak rakyat terabaikan. 69 tahun sudah usia Indonesia dan selama itu pula rakyat Maluku menderita dengan sistem yang berlaku di negeri ini.

Akhirnya saya ingin menutup pembicaraan saya dengan kutipan:”Kita pernah mengalami yang namanya kutukan minyak, dan kutukan hutan. Apa itu? Waktu itu sumber minyak kita bisa menjadi sumber keuangan yang sangat besar sekali, tapi ternyata kita tidak bisa memanfaatkan,” Jokowi saat pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/11/2014).

Sebab itu jangan sampai terjadi “Kutukan Laut” karena visi maritim dan rencana tol laut anda, terutama di kampung kami Maluku-Maluku Utara, Tuan Presiden. (*)