Lelaki yang Melukis Esok Jadi Kemarin

oleh -8 views

Saat mendekati jam makan siang, Barat beranjak keluar dan makan siang di restoran cepat saji. Di sana ia menulis jurnalnya sebentar, menceritakan segala kecamuk hati serta kegembiraan yang dirasakannya. Kenyataannya dia masih menulis, tapi segala tulisannya sangat buruk dan begitu emosional.

Lagi pula apa yang dituliskannya hanya berisi curahan hati, dan tak seorang pun layak untuk membacanya. Menjelang sore dia pulang ke rumah, dan tidur barang sebentar sebelum akhirnya menutup hari dengan datang ke makam anaknya dan membacakannya puisi Sylvia Plath. Dan setiap kali halaman yang dibacanya itu jatuh pada puisi berjudul Daddy, Barat langsung jatuh menangis. Hingga ia menjadi ingat, setiap kali mendekati halaman itu, dia langsung melompatkannya.

Baca Juga  Kota Ambon Rilis Calendar of Event 2026, Atraksi Budaya dan Pesona Musik Sepanjang Tahun

Begitu malam sudah jatuh, ia meninggalkan pemakaman dan melajukan kendaraannya menuju sebuah bar. Minum sedikit, baca cerita, menonton pertandingan bola kaki Amerika, dan kemudian menambahkan lagi gelas minumannya. Lantas saat ia mulai merasa cukup, segera ia berpindah lagi ke pelataran parkir yang sudah sepi pada pukul sebelas. Tak ada kendaraan yang terparkir di sana, kecuali mobilnya sendiri.

Mall sudah ditutup satu jam yang lalu. Maka dengan bebas ia berdiri di bawah tiang lampu itu. Menanyakan perihal akal seseorang yang ia tak tahu terjatuh di mana. Pikirannya sedikit pusing, sekonyong-konyong whiskey menggerogoti otaknya, dia jatuh bersandar di tiang lampu. Dinginnya langsung menunjuk punggung. Tapi sebentar lagi, Juni yang hangat akan tiba. Dan kedukaan ini kian menjadi tak beres untuk pikirannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.