Lima Sila sebagai Lima Luka

oleh -50 views

Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Saudaraku, Pancasila tidak terancam oleh mereka yang membencinya. Ia lebih terluka oleh mereka yang mengaku paling mencintainya.

Setiap 1 Juni, kita mengenang kelahirannya. Namun jarang memeriksa nasibnya.

Pancasila terpajang di dinding; korupsi berakar dalam sistem. Pancasila dibacakan dalam upacara; keadilan mengantre di pintu kuasa. Pancasila menjadi slogan pidato; rakyat kerap hanya pelengkap penderita.

Di atas mimbar, persatuan dielukan. Di lapangan, perpecahan dipanen sebagai modal politik. Di sekolah, anak-anak diajari bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Dalam praktik, rakyat sering dicari hanya ketika suaranya dibutuhkan.

Kita tidak kekurangan orang yang berbicara Pancasila. Yang langka adalah mereka yang rela kehilangan privilese demi menjalankannya. Sebab cinta kepada Pancasila tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari keberanian menghidupkannya.

Baca Juga  Golkar Maluku Terapkan “Tradisi Kekuasaan” di Musda, Prioritaskan Kader yang Pegang Jabatan Strategis

Maka pada Hari Lahir Pancasila, pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah rakyat masih percaya kepada Pancasila?” Melainkan: “Apakah para pemegang kuasa masih takut mengkhianatinya?”

Krisis terbesar bangsa bukan ketika rakyat kehilangan hafalan, melainkan ketika elite kehilangan rasa malu: ketika jabatan dianggap warisan, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kritik diperlakukan sebagai ancaman, dan kekuasaan lebih sibuk menjaga diri daripada melayani negeri.

No More Posts Available.

No more pages to load.