Percakapan penuh cinta di atas pasir yang pasrah digempur ombak menusuk nurani Loela. Ia seperti dibanting realitas yang mencekik. Mesin jahit itu – yang bertahun lamanya jadi barang mewah di rumah “katu” berdinding anyaman bambu – dijual Eya untuk biaya diri Loela ke pulau Jawa. Penghujung 1977, Loela tiba di Jakarta. Tak ada sanak famili. Tak ada teman. Modal “nekat” menuntun langkah kakinya menuju masjid terbesar di Indonesia. Tak kurang dari empat tahun, Loela dan beberapa teman “tinggal” di masjid Istiqlal. Untuk makan, mereka kerja serabutan. Tak jarang ikut ngamen atau bernyanyi di acara kenduri warga. Di masjid ini pula, Loela menciptakan sebuah lagu, “Gitar Tua”.
Loela sempat pulang ke Ternate mengikuti audisi bintang radio. Ia jadi yang terbaik di lomba tahun 1982. Lalu tawaran bernyanyi datang mengoda. Pintu dapur rekaman terbuka lebar. Bersama Indras, grup band legendaris asal Ternate, Loela menelurkan dua album lagu daerah yang direkam di Surabaya. Kita mengingat dengan guyub lagu ; momina jiko, reke duka dan talaga rano. Seingat Loela, album lagu daerah mereka kala itu adalah album kedua setelah sebelumnya almarhum Sultan Mudaffar Syah dan grup Ell Morogam merekam lagu-lagu daerah Maluku Utara. Salah satu hits dalam album ini adalah lagu “Lemo Lemo” yang dinyanyikan Sultan.








