Lagu pula yang menautkan kedekatannnya dengan Sinyo Harry Sarundajang. Walikota Bitung itu mengajaknya bergabung dalam tim kampanye saat pertama kali mengikuti pemilihan Gubernur. Sebuah pilihan yang tepat. Maklum. Semua angkutan kota di Manado dan beberapa kota utama di Sulawesi saban hari memutar lagu-lagu Loela dengan bunyi speaker yang kencang tiap kali melintasi jalanan. Orang ramai menghafal lagunya. Juga menyimpan suaranya dalam memori kolektif mereka. Setelah Sarundajang terpilih, suatu ketika Ia memanggil Loela ke ruang kerjanya. Loela diminta menyiapkan berkas berisi data diri. Sang Gubernur bermaksud menjadikannya anggota DPD lewat pemilu yang akan tiba. Loela bergegas menyiapkan semua yang diminta. Selang beberapa hari dirinya kembali menemui Gubernur.
Loela masih ingat percakapan pagi itu. “Abdul Halil ini sapa?, tanya Sarundajang sambil memeriksa berkas. “itu saya”, jawab Loela. Dengan wajah serius Sarundajang berkata, “Ngana pe nama Abdul Halil? Tra jadi suda. Orang di sini lebe kanal Loela. Nama Abdul Halil ne orang tra tau. Kampanye sampe doi abis me orang tra pilih pa ngana”. Loela hanya tertawa.
Jabatan baginya bukan sesuatu yang mesti dikejar. Ketenaran sebagai penyanyi telah memberinya batas. Ia selalu bercermin pada pesan Eya. Hidup baginya lebih bermakna jika bisa membahagiakan orang lain. Di usia yang tak lagi muda, Loela sudah menemukan segalanya. Berbagai pernik hidup dijalani dengan senyum. Loela tak lagi mencari. Orang ramai lah yang akan terus mengingatnya sebagaimana kata John Lennon, legenda The Beatles yang hingga kini abadi namanya : Kau tak perlu orang lain untuk memberitahu siapa dirimu, Kaulah dirimu sendiri. (*)








