Lalu, soal biaya operasional kampanye yang besar, mulai dari alat peraga sampai kepada biaya-biaya untuk mengunci tokoh dan elite daerah yang suaranya mewakili kelompok yang besar di daerah, juga bukan kesalahan rakyat pemilih di daerah, tapi kesalahan para paslon yang tidak berinvestasi politik dalam waktu yang panjang sebelumnya.
Sehingga paslon-paslon yang muncul secara dadakan di daerah, tanpa pernah berbuat apa-apa, tentu membutuhkan biaya besar untuk membangun popularitas dan reputasi politik dalam waktu singkat.
Jalan satu-satunya adalah dengan menebar uang untuk berbagai macam pendekatan politik di daerah.
Kasusnya tentu akan berbeda jika seorang paslon telah berbuat banyak di daerah, telah melakukan kinerja politik di daerah dengan rutin berkomunikasi dengan tokoh-tokoh dan para elite di daerah tentang masalah-masalah di daerah (bukan berkomunikasi tentang hal-hal picik untuk menguras anggaran daerah), dan sering hadir di tengah-tengah pemilih (rakyat) di daerah, tentu ceritanya juga akan berbeda.
Sang paslon cukup menambahkan fitur-fitur baru yang berbiaya tidak terlalu mahal di saat ingin maju sebagai paslon.
Apalagi jika paslon tersebut adalah petahana yang sebelumnya ternyata tidak banyak berbuat untuk daerahnya.












