Namun, ada satu oligarki yang kini berani terang-terangan menantang Jokowi: Sugianto Kusuma alias Agung Sedayu atau Aguan. Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan, kini Aguan merasa dikorbankan. Proyek reklamasi, lahan-lahan strategis, dan berbagai kepentingan bisnisnya terancam, sementara oligark lain tetap dilindungi. Aguan kini menyadari bahwa loyalitas kepada Jokowi tidak lagi menjamin perlindungan, dan ia memilih untuk melawan, meskipun sendirian.
Prabowo menghadapi dilema besar. Jika ia tetap membiarkan Jokowi dan oligarki berkuasa di belakang layar, pemerintahannya akan sekadar menjadi kelanjutan dari rezim sebelumnya, tanpa perubahan berarti. Namun, jika ia mencoba mengguncang sistem ini, ia harus siap menghadapi perlawanan dari jaringan ekonomi-politik yang sudah mapan, termasuk pengusaha hitam yang masih setia pada Jokowi.
Pertanyaannya kini: apakah Prabowo cukup berdaya untuk keluar dari bayang-bayang Jokowi? Ataukah ia akan menjadi presiden yang sekadar menjalankan titah oligarki lama? Keputusan ada di tangannya—dan sejarah akan mencatatnya. (*)
Surabaya, 5 Februari 2025









