Maluku, Damai yang Tertunda

oleh -153 views

Oleh: Khairuz Salampessy, Pegiat lingkungan

Kejadian kemarin, penikaman seorang siswa asal Hitu hingga meninggal dunia, lalu pecahnya amarah yang berujung pada bentrokan di Hunut, pembakaran kantor desa, dan rumah-rumah yang ikut terbakar, seakan membuka kembali luka lama yang pernah begitu dalam membekas di tanah Maluku.

Saya lahir tahun 1987. Saat konflik besar meletus pada 1999, saya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Masa kecil yang seharusnya penuh tawa, justru diwarnai ketakutan, keterbatasan, dan kehilangan. Saya masih ingat bagaimana pendidikan terhenti, bagaimana kebutuhan sehari-hari sulit diperoleh, dan bagaimana benci serta dendam menyelimuti udara yang kita hirup.

Konflik itu tidak berlangsung sebentar. Tahun berganti, tetapi luka tetap menganga. Saat SMA pun, kondisi belum sepenuhnya pulih. Orang Kristen enggan melintas ke wilayah Muslim, begitu pun sebaliknya. Padahal, jika kita mau jujur, di tengah gelombang permusuhan itu, ada cahaya kecil kemanusiaan yang tetap menyala.

Saya adalah saksi hidup dari cahaya itu. Waktu kecil, keluarga saya tinggal di wilayah Kristen, tepatnya di Galala. Kami mengontrak rumah dari seorang ibu yang kami panggil Mama Pa. Beliau begitu baik. Kami tinggal di rumah itu lebih dari sepuluh tahun, namun hanya diminta membayar kontrakan setahun saja. Bukan karena kami tidak mampu, melainkan karena ketulusan beliau yang luar biasa. Bahkan ketika situasi sedang panas, kami masih bisa bertanya kabar bahkan mengirim beras untuk Mama pa. Sebuah tanda bahwa di atas segala perbedaan, kemanusiaan selalu menemukan jalannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.