Maluku Miskin Karena Memang Miskin

oleh -442 views
Link Banner

Oleh: Julius R. Latumaerissa, Akademisi dan Pemerhati Maluku

Perdebatan atau diskusi tentang kemiskinan Maluku tak akan pernah habis, karena sudut kajian yang berbeda dengan argumentasi yang terbatas, sehingga melahirkan diskusi tanpa solusi kesepkatan

Maluku dikatakan miskin karena memang miskin, sebab kita selalu memeliahara kemiskinan itu sendiri, baik masyarakatnya maupun pemerintah-nya.

Dari aspek masyarakat, kita tidak pernah berupaya untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada saat ini dengan perkembangan yang begitu cepat. Kita semua masih bertahan dengan pola piker yang lama dan tidak mau berpikir out of the box. Kita selalu memelihara keterbelakangan kita sendiri, konstruksi berpikir serta orientasi kita selalu bertentangan dengan perubahan, dan kita terjebak dengan sejarah kejayaan masa lalu tanpa disadari itu hanya kenangan yang tidak akan kembali jika kita tidak merubah mindset kita

Link Banner

Akibatnya kita saling menuding antara pemerintah dan masyarakat, saling iri satu dengan yang lain, dan bermuara kepada pengembangan dan penyuburan isu-isu sempit dan kaku yang berpotensi menjauhkan kita semua dari rasa persatuan itu sendiri.

Baca Juga  Akan Gelar Dialog Antarumat Beragama, Wali Kota Ambon dan FKUB Temui Menag RI

Kita selalu menipu diri kita dengan semangat kemaluku-an yang fatamorgana sifatnya. Kita selalu kembangkan persatuan dan kemalukuan dalam berbagai narasi, diksi yang tersusun rapi, bahkan diskusi dan retorika, namun tataran implementasinya kita saling curiga, saling gosok parang diantara kita sendiri.

Lalu apa artinya dan makna persatuan Maluku.? Apa makna dari Ale Rasa Beta Rasa..? potong di kuku rasa di daging..? Saya menilai semua ini adalah kalimat-kalimat yang tidak bermakna saat ini. Hal itu tercermin melalui pola pemikiran dan konstruksi berpikir yang berkembang melalui berbagai diksu di media social. Dari aspek inilah kita jangan pernah bermimpi untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan Maluku yang saya gambarkan dalam pendapat ini.

Dari Aspek pemerintah daerah, baik Provinsi dan Kabupaten Kota, tergambar tidak punya rasa empati kepada problematika pembangunan dan masayarakat Maluku. Terjadi pergeseran orientasi berpikir yang tergambar dalam miskinnya kebijakan pro rakyat, perilaku korup terus berkembang tanpa punya rasa malu bahkan cendrung sombong dengan kedunguannya.

Baca Juga  Pacaran 9 Tahun tapi Pas Nikah Cuma Tahan 2 Tahun, Alasan Wanita Ini Nyesek

Semua ini karena para elit sudah dikuasi dengan konstruksi berpikir POLITIS dan mereka tidak lagi memiliki jiwa kenegarawan. Segala cara ditempuh untuk melegalkan napsu kekuasaan dengan membangun kekuatan oligarki ekonomi dan politik. Kenegarawan menjadi hilang tanpa bekas, ditandai dengan hilangnya empati dan buta mata, tuli telinga, dan mampetnya hidung untuk melihat, mendengar dan mencium jeritan rakyat Maluku secara konsisten dan berkesinambungan.

Kondisi ini menyebabkan apatisme rakyat, dan pesimisme rakyat Maluku menghadapi masa depan. Rakyat cendrung pasrah, karena pemerintahan yang miskin empati. Dengan demikian maka langgengnya kemiskinanMaluku adalah andil semua pihak baik, kita sebagai rakyat dan pemerintah daerah itu sendiri. Jangan kita selalu mencari kambing hitam atas semua keterbelakangan yang ada saat ini. Sadar atau tidak, suka atau tidak semua ini kita yang ciptakan. Marilah jujur untuk berkata.

Baca Juga  Patroli Harkamtibmas, Detasemen Gegana Brimob Maluku Sambangi Pangkalan Ojek di Wilayah Kota Ambon

Kita tidak akan pernah maju jika menyelesaikan persoalan Maluku dengan selalu meciptakan kebohongan baru. Ambon MANISE, Maluku yang kaya itu hanya mimpi yang tak akan pernah wujud, dan yang ada adalah Rakyat kota Ambon dalam kepahitan dan Rakyat Maluku dalam kemiskinan. Jangan membangun dalil-dalil dangkal dan tidak logis untuk membuat pembenaran atas ketidakbenaran yang ada saat ini. Ketimpangan dalam pembangunan adalah ancaman bagi keutuhan social dalam masyarakat (*)