Menurut berbagai laporan awal, serangan terhadap pesawat ini dilakukan dengan kombinasi rudal balistik dan drone dalam satu gelombang serangan. Dalam istilah militer, serangan demikian disebut saturation attack.
Bayangkan Anda punya payung kecil, lalu tiba-tiba hujan bukan air, tapi batu kerikil dari segala arah. Tidak semua bisa ditangkis. Sebagian pasti lolos.
Dan di sinilah ironi terbesar AWACS. Di udara ia raja, di darat ia hanya “target parkir”. Ia besar, mencolok, tidak bergerak, dan tidak punya pertahanan aktif seperti jet tempur.
Begitu sistem pertahanan pangkalan jebol, entah karena jumlah serangan, sudut datang, atau sekadar naas, maka pesawat ini berubah dari “mata langit” menjadi “bangkai mahal”.
Dan mahal di sini bukan metafora. Satu unit E-3 Sentry bernilai sekitar 270 juta dolar AS, atau mendekati empat triliun rupiah. Itu belum termasuk biaya pelatihan kru, sistem elektronik, dan nilai strategisnya.
Dengan jumlah AWACS yang tersisa hanya belasan unit aktif, kehilangan satu saja seperti kehilangan satu server utama dalam sistem global. Anda tahu, ia bukan sekadar perangkat, tapi simpul.
Namun, apakah ini berarti kekalahan strategis? Bisa iya, bisa tidak. Sebab, militer modern bukan lagi satu mata, tapi jaringan ribuan mata. Ada satelit, radar darat, kapal perang, drone, hingga intelijen digital.











