Isu Anggaran dan Dominasi Asing
Hasil serupa juga ditunjukkan survei Media Survei Nasional (Median). Direktur Median Rico Marbun, menyebut 50,4 persen responden menolak Indonesia bergabung dalam BoP.
Menurutnya, kekhawatiran terhadap dominasi Amerika Serikat dan Israel menjadi faktor utama penolakan.
“Sebanyak 14,6 persen publik memandang BoP ini adalah upaya Amerika dan Israel menguasai Gaza,” ujarnya.
Selain itu, rencana iuran sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp17 triliun juga menuai penolakan kuat. Sebanyak 73,3 persen responden menilai anggaran tersebut lebih baik digunakan untuk kebutuhan domestik.
Akademisi Soroti Kredibilitas BoP
Kritik juga datang dari kalangan akademisi. Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Nur Rachmat Yuliantoro, menilai kredibilitas BoP patut dipertanyakan di tengah dinamika konflik global.
Ia menyinggung kontradiksi antara tujuan perdamaian BoP dengan realitas geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
“Ini membuat kita bertanya-tanya tentang kredibilitas dan legitimasi BoP. Perdamaian melalui BoP menjadi sesuatu yang sangat jauh,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi Indonesia untuk mempertimbangkan kembali keanggotaannya dalam forum tersebut.









