Memaknai 21 April, Sherly Bukan Kartini

oleh -492 views

Sherly bukan Kartini 

Kartini adalah wanita Jawa yang hidup dalam kungkungan patriarki tapi kemudian Kartini berani keluar dan membuat gerakan dengan cara yang lebih elegan. Kartini tak pernah mau untuk berada di comfort zone. Ia membangun kesadaran lewat tulisan yang merupakan bentuk kecerdasan literasi yang tak ada bandingan di zaman itu.

Kartini menginisiasi sekolah gratis yang menjadikan banyak perempuan mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki.

Kartini terlahir dengan privilage sebagai anak bupati, tapi semua itu tak membuat Kartini menjadi jemawa, Dia berkayikinan jika perempuan mendapatkan kesetaraan hak dalam pendidikan dan politik maka upaya pembebasan menjadi sesuatu yang sangat mungkin dilakukan.

Kartini tak pernah menjadikan dirinya yang anak bupati sebagai privilage untuk mengkapitalisasi semua peluang guna menumpuk harta, apalagi memperluas jejaring untuk ekspansi kekuasaan dan penguasaan atas sumber daya yang ada.

Baca Juga  Peringati Harganas 2026, Pemkot Ambon Tegaskan Komitmen Perkuat Ketahanan Keluarga

Kartini bukanlah pebisnis yang orientasinya adalah mengkalkulasi keuntungan dengan sebanyak-banyaknya tanpa perlu mengeluarkan modal besar. Kartini juga tak pernah menjual air mata guna membangun simpati publik.

Dia juga tidak menjual romantisme dan kesedihan sebagai instrumen untuk menjadikan mirror neuron bekerja di benak masyarakat, apalagi membutuhkan validasi di media sosial.

No More Posts Available.

No more pages to load.