Memaknai 21 April, Sherly Bukan Kartini

oleh -503 views

Apa Legacy Kartini untuk Kita

Jauh sebelum Kartini dipersunting Raden Ajeng Joyodingrat, Kartini telah banyak melahirkan tulisan-tulisan yang menjadi trigger bagi dunia pendidikan dan kepenulisan di Indonesia. Kartini pernah menulis tentang ” Perkawinan Suku Koja”yang terbit di Holandsche Lelie saat berusia 14 Tahun.

Kartini sendiri mulai belajar menulis sejak masa dipingit. Saat itu pula, Kartini memulai korespondensi dengan teman-temannya di Belanda.  Rosa Abendanon adalah kawan belandanya yang banyak mendukung Kartini untuk terus tumbuh berkembang bersama tulisan-tulisan berbahasa Belanda sesuai dengan kecakapan Kartini.

Surat-surat yang Kartini kirimkan banyak bercerita tentang perempuan Jawa kelas atas, pentingnya pendidikan bagi anak perempuan, dan juga tentang sisi lain tentang Kartini sebagai anak Bupati Jepara.

Setelah Kartini wafat, JH. Abendanon (Menteri Agama, Kebudayaan, Kerajinan) Hindia Belanda mengumpulkan semua surat-surat Kartini yang pernah dikirimkan ke teman-temannya di Belanda. Dan dari kumpulan surat-suratnya itu, lahirlah buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya, yang diterbitkan pada 1911.

Baca Juga  Tiga Bulan KM Cantika Lestari 7A Tak Beroperasi, Kepemimpinan Bupati Buru Selatan Dipertanyakan

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Melayu dengan judul: Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.

No More Posts Available.

No more pages to load.