Perempuan itu berambut cokelat terang, bermata kelabu, dan berbicara bahasa Belanda lebih fasih daripada bahasa Melayu Ambon. Namun ketika memperkenalkan diri, ia selalu lebih dulu menyebut asal keluarganya.
“Opa dan Oma berasal dari Haruku,” katanya sambil tersenyum.
“Kalau aku dari Ambon.”
“Berarti kau benar-benar pulang dari sana.”
Randy mengangguk.
“Kau belum pernah ke Maluku?”
Elisa menggeleng.
“Aku hanya pernah mendengar ceritanya.”
**
Hubungan mereka tumbuh perlahan.
Bukan karena cinta yang datang tiba-tiba, melainkan karena percakapan yang tak pernah habis. Mereka berbicara tentang sejarah, tentang identitas, tentang bagaimana satu generasi dapat mewariskan kerinduan kepada generasi berikutnya.
Suatu musim panas mereka pergi ke Bali menghadiri konferensi mahasiswa.
Pada sore terakhir sebelum kembali ke Belanda, mereka mendaki Bukit Campuhan di Ubud.
Matahari tenggelam perlahan di balik lembah hijau. Angin membawa harum rerumputan yang basah.
Elisa berdiri memandang langit tanpa berkata apa-apa.
Randy diam-diam memperhatikannya.
Sinar senja jatuh di wajah perempuan itu, membuat matanya tampak bulat dan terang seperti bulan yang baru naik.
“Kalau Opa masih hidup,” kata Elisa pelan, “mungkin ia akan menangis melihat Indonesia sekarang.”









