Dalam kehidupan batin manusia, cinta dan benci sering berdekatan. Keduanya lahir dari keterikatan yang sama. Cinta ingin memelihara, sedangkan benci yang lahir dari kekecewaan ingin mengguncang agar sesuatu yang rusak dapat disadari.
Yang paling jauh dari cinta sesungguhnya bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian.
Orang yang marah masih memandang ke arah rumahnya. Ia masih terusik melihat dinding yang retak dan atap yang bocor. Ia masih menyimpan harapan bahwa rumah itu layak diperbaiki. Sebaliknya, orang yang telah kehilangan kepedulian tidak lagi merasa perlu melakukan apa pun. Ia membiarkan semuanya berjalan tanpa ikatan batin.
Dalam arti itulah, kemarahan tidak selalu menjadi lawan dari cinta.
Kadang ia justru merupakan bentuk cinta yang terluka.
Karena itu, ketika ada suara yang berkata kepada para pengkritik, “Kalau tidak suka, pergilah ke negeri lain,” sesungguhnya yang diabaikan adalah hakikat cinta kepada tanah air. Kesetiaan kepada bangsa tidak diukur dari banyaknya pujian yang diucapkan, melainkan dari kesediaan memikul tanggung jawab atas nasib bersama.
Kritik yang lahir dari kepedulian bukanlah ancaman bagi bangsa. Ia merupakan salah satu cara menjaga agar cita-cita bersama tidak semakin menjauh dari kenyataan.









