Mencintai Indonesia, Mengkritik Kekuasaannya

oleh -27 Dilihat

Bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang bebas dari kritik. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu mendengar kritik tanpa kehilangan kejernihan untuk membedakan mana kemarahan yang lahir dari kepedulian dan mana kebencian yang memang ingin meruntuhkan.

Indonesia sendiri selalu menyimpan paradoks. Alamnya begitu kaya, tetapi masih banyak warganya hidup dalam kekurangan. Budayanya mengajarkan gotong royong, tetapi kehidupan publik kerap diganggu oleh ketidakadilan dan keserakahan. Kita memiliki cita-cita luhur tentang keadilan sosial, namun masih terus bergulat untuk mewujudkannya.

Paradoks itu tidak boleh membuat kita kehilangan harapan.

Justru karena Indonesia adalah rumah bersama, setiap keretakan di dalamnya patut mengusik nurani. Setiap penyimpangan layak dikoreksi. Setiap ketidakadilan menuntut keberanian untuk diperbaiki.

Bangsa tidak kehilangan masa depannya karena warganya bersuara keras. Yang lebih berbahaya adalah ketika suara-suara itu menghilang karena mereka tidak lagi merasa memiliki negeri ini.

Baca Juga  Umar Lessy Perintahkan KPPG Golkar Maluku Perkuat Konsolidasi dan Cetak Pemimpin Perempuan

Selama masih ada kegelisahan yang lahir dari rasa memiliki, masih ada harapan yang belum padam.

Sebab cinta kepada Indonesia tidak selalu hadir dalam bentuk pujian. Kadang ia menjelma menjadi kritik yang jujur, menjadi keberanian untuk mengingatkan, dan menjadi kesediaan menjaga rumah bersama agar tetap layak diwariskan kepada generasi yang akan datang.

No More Posts Available.

No more pages to load.