Mengantar Gibran ke Timur

oleh -304 views

Ia juga akan belajar bahwa keamanan adalah fondasi, tapi bukan satu-satunya jawab. Bahwa aparat negara telah hadir di sana dengan segenap loyalitas, namun perlu disertai pendekatan sosial, budaya, dan komunikasi yang lebih akrab. Gibran harus mampu menjadi jembatan antar institusi: pemerintah pusat, tokoh lokal, dan warga sipil.

Papua sendiri, jika mau jujur, tak selalu menyambut dengan tangan terbuka. Di sana ada kelelahan terhadap janji. Ada trauma lama yang belum sembuh. Tapi juga ada harapan—bahwa suatu hari, negara tak hanya datang untuk menjaga, tapi juga mendengarkan dan menyertai.

Maka Gibran harus datang dengan kepala terbuka. Tanpa prasangka. Bukan sebagai perwakilan elite, tapi sebagai pelayan negara. Ia tak perlu menjanjikan solusi cepat. Ia cukup hadir. Mendengar. Mencatat. Dan menyampaikan.

Baca Juga  Mama Sinta Dijemput Jet PT Jhonlin sebelum Laporkan Film Pesta Babi ke Polda Metro Jaya

Penempatan ini, kalau dijalankan dengan benar, bisa menjadi lembar penting dalam sejarah pemerintahan ke depan. Tapi jika hanya simbolis, ia akan cepat hilang dalam debu panjang konflik dan skeptisisme lama.

Kita tak butuh banyak hal dari pemimpin. Hanya satu: kesediaan untuk hadir dan jujur. Itu saja sudah cukup banyak untuk mengubah arah sebuah sejarah.

Di tanah yang mataharinya menyala dari ufuk timur, Gibran bisa belajar bahwa kekuasaan sejati bukan berasal dari istana, tapi dari kemampuan bertahan dalam kesunyian rakyat yang selama ini jarang dipeluk penuh oleh republik.

No More Posts Available.

No more pages to load.