Sementara itu, Suku Kei atau Evav di Maluku Tenggara memiliki sistem kekerabatan patrilineal yang kuat. Mereka menjunjung tinggi prinsip penghormatan terhadap yang lebih tua serta memiliki tradisi pembersihan negeri sebagai bentuk menjaga keseimbangan sosial.
Di Pulau Buru, masyarakat Suku Rana yang tinggal di sekitar Danau Rana memiliki tradisi Wahadegan, yaitu makan bersama hasil panen tanpa memperjualbelikannya ke luar komunitas, sebagai simbol kebersamaan dan kemandirian.
Tak kalah unik, masyarakat Tanimbar atau Orang Numbar dikenal dengan sistem Duan-Lolat yang mengatur relasi sosial berbasis perkawinan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan berbagai bahasa, termasuk Melayu Ambon, Kei, hingga Fordata.
Menariknya, keberagaman Maluku juga mencakup kelompok pendatang seperti Suku Sasak dari Lombok yang telah lama menetap dan berbaur, menjadi bagian dari mosaik sosial yang hidup berdampingan secara damai.
Adat yang Menyatukan Perbedaan
Salah satu kekuatan utama masyarakat Maluku adalah kemampuannya menjaga harmoni melalui adat istiadat.
Tradisi seperti Panas Pela menjadi simbol persaudaraan antar-negeri yang melampaui batas agama. Dalam ritual ini, hubungan kekerabatan diperbarui dan dipererat sebagai bentuk komitmen menjaga kedamaian.









