Menggenggam Semu

oleh -5 Dilihat

Aku masih terdiam tepat di belakangnya dengan perasaan ingin mencegahnya pergi. Saat tanganku yang semula mengharapkan dia kembali, aku turunkan. Aku menundukkan pandangan. Sebab menatap punggungmu yang akan pergi jauh hanya akan membuatku sedih. Lantas aku segera berbalik arah, membelakanginya itu lebih baik. Aku tak berdaya. Waktu telah memenangkan pertempuran ini. Aku kalah. Aku harus bisa merelakannya pergi.

Saat aku akan melangkah dengan tangisan lara, ada sesuatu yang menyentuh bahuku. Dia berkata pelan di belakangku. “Aku akan pergi, tapi jangan pernah menganggap bahwa aku berlari darimu. Suatu saat, aku akan kembali dan menepuk bahumu lagi. Aku menyayangimu. Jaga dirimu biak-baik.” Katanya yang kemudian berangsur menghilang bersama dengan tangannya yang tak lagi menyentuh bahuku.

Baca Juga  Bodewin Wattimena Bicara Soal Sampah Ambon: 8 Truk Baru hingga Pembenahan TPS dan TPA

Aku langsung memutar arah untuk menghadapnya, dan saat aku berbalik, dia sudah tidak ada di depanku lagi. Bahkan kereta yang sempat terlihat di mataku telah menghilang. Aku segera berlari ke arah rel kereta, mataku berkeliling mencari sosoknya yang aku yakin masih ada disini. Berlari kesana kemari, hingga tak kunjung kutemui. Aku terdiam. Membiarkan bulir bening kembali terlahir dari mataku. Hatiku serasa perih. Ketika tak sempat melihat seseorang yang telah mendapatkan hati, pergi begitu saja.

No More Posts Available.

No more pages to load.