Di Kecamatan Kapala Madan misalnya, ada sebanyak tiga obyek wisata yakni Hutan dan Gunung Kapala Madan, Air Jin, Pasir Putih. Sementara di Kecamatan Leksula ada Taman Banulalet, Tifu, dan Air Babunyi. Di Kecamatan Namrole ada Pantai Namrole, Pantai Oki. Dan yang tidak kalah menarik adalah obyek wisata yang terletak di Kecamatan Ambalau yakni Tugu Portugis, Air Panas dan Kapal Karam.
Aneka obyek wisata yang tersebar di Buru Selatan dengan beragam jenisnya yakni wisata alam, sejarah dan bahari itu sangat terhubung dengan karakter wisatawan baik lokal, nasional maupun internasional. Sehingga potensi ini menjadi penting untuk diseriusi. Apalagi Masyarakat Buru Selatan pada umumnya memiliki budaya keterbukaan, dalam arti masyarakat mudah berinteraksi dengan beragam budaya yang masuk dan mudah menerima informasi dari luar.
Hal ini merupakan modal dasar bagi
pelaksanaan pembangunan guna mencapai kemajuan diberbagai bidang dengan
menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan dalam upaya mewujudkan kemandirian masyarakat guna menciptakan kesejahteraan. (Muktilestari, 2012).
Sesungguhnya, pariwisata telah lama menjadi perhatian, baik dari segi ekonomi,
politik, administrasi kenegaraan, maupun sosiologi, sampai saat ini belum ada kesepakatan secara akademis mengenai apa itu pariwisata. Secara etimologi, kata pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri atas dua kata yaitu pari dan wisata. Pari berarti “banyak” atau “berkeliling”, sedangkan wisata berarti “pergi” atau “bepergian”. Atas dasar
itu, maka kata pariwisata seharusnya diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar, dari suatu tempat ke tempat lain, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan kata “tour”, sedangkan untuk pengertian jamak, kata “Kepariwisataan” dapat digunakan kata “tourisme” atau “tourism” (Yoeti, 1996:112)




