Di antara kebutuhan dan risiko, warga dipaksa memilih.
Jeriken yang dibawa pergi dalam keadaan kosong harus kembali terisi. Sebab kebutuhan air tidak mengenal hari libur.
Di sinilah wajah lain kemerdekaan terlihat.
Saat Indonesia memasuki usia ke-81 tahun, ketika berbagai daerah mulai memasang Merah Putih dan bersiap merayakan Hari Kemerdekaan, masyarakat Desa Dowra masih berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana mendapatkan air bersih.
Bagi mama-mama Dowra, kemerdekaan barangkali memiliki arti yang sangat sederhana.
Tidak perlu menempuh perjalanan hampir satu jam dengan perahu hanya untuk mencari air.
Tidak perlu membawa jeriken kosong menyeberangi perairan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Dan yang paling penting, tidak perlu pulang dengan pertanyaan: apakah air yang dibawa ini benar-benar aman untuk dikonsumsi?
Mereka hanya ingin satu hal: air bersih tersedia lebih dekat dengan rumah.
Pagi yang Dimulai dengan Jeriken dan Perahu
Bagi sebagian keluarga, pagi mungkin dimulai dengan secangkir kopi, sarapan, atau percakapan ringan bersama orang-orang tercinta.
Di Dowra, pagi dapat dimulai dengan memeriksa persediaan air.
Ketika air di rumah mulai menipis, perahu disiapkan. Jeriken dibawa. Perjalanan dimulai.
Hampir satu jam menuju sumber air.









