Menyuruh Rakyatnya Sendiri Pindah Negara, Narasi Buruk Seorang Presiden

oleh -27 views

Oleh: Didi Irawadi Syamsuddin, Lawyer, penulis dan politisi

Seorang Presiden dipilih bukan untuk menyuruh rakyatnya pergi, melainkan untuk memastikan rakyatnya tetap punya alasan mencintai dan bertahan di negerinya sendiri.

Ketika rakyat mengeluhkan harga pangan yang semakin mahal, sulitnya mencari pekerjaan, nasib guru yang belum sejahtera, rupiah yang terus tertekan, serta investor yang lebih tertarik menanamkan modal di negara tetangga, tugas Presiden bukan membalas dengan sindiran.

Presiden harus menjawab dengan kebijakan.

Sebab istana bukan panggung untuk adu nyinyir. Kekuasaan bukan mikrofon untuk berkata, “Kalau tidak suka, pindah saja.” Presiden bukan komentator media sosial yang cukup menjawab kritik dengan gaya:

Nye, nye, nye…

Baca Juga  Propam Polda Malut Periksa Kelayakan Senjata Api Personel Ditpolairud

Rakyat tidak sedang merengek. Rakyat sedang menyampaikan kenyataan hidup.

Mereka berbicara tentang harga beras, minyak goreng, telur, dan kebutuhan pokok yang semakin menguras pendapatan. Mereka bertanya tentang program Makan Bergizi Gratis yang harus dijalankan secara aman, tepat sasaran, transparan, dan tidak menjadi ladang proyek bagi segelintir orang.

Mereka juga mempertanyakan Koperasi Desa Merah Putih: apakah benar-benar akan memperkuat ekonomi rakyat, atau sekadar menjadi program besar dengan spanduk besar, anggaran besar, tetapi manfaat yang belum tentu besar?

No More Posts Available.

No more pages to load.