Metafora “Tedong” dan Kemacetan Berpikir PDI-Perjuangan Maluku

oleh -255 views
Link Banner

Oleh: Bito Temmar, Politisi Senior

Metafora “tedong” vis a vis “banteng kekar” yang saya gunakan beberapa saat lalu untuk menggambarkan situasi PDI-Perjuangan Maluku saat ini, akhirnya direaksi dua kader PDI-Perjuangan, Sahureka dan Pattilew.

Semula saya berharap konsep metafor tedong sebagai tandingan terhadap banteng kekar bisa merangsang diskursus yang menginput elit PDI-Perjuangan Maluku melakukan perbaikan internal, tampaknya tidak terjadi.

Harapan bahwa melalui metafor tedong segera merangsang diskursus, malah berubah menjadi ajang serangan balik. Ini pertanda bahwa ada kemacetan berpikir di kalangan elit dan kader partai ini.

Kesengajaan menggunakan metafor tedong, karena mungkin tidak belajar, dua kader itu menganggap seolah-olah saya berusaha merendahkan. Padahal, sekali lagi, metafor tedong sebagai tandingan terhadap metafor resmi yang sekaligus menjadi lambang partai ini, banteng kekar, sangat evaluatif. Artinya metafor itu saya gunakan untuk menggambarkan situasi aktual partai ini.

Sebagaimana saya sudah kemukakan, banteng kekar adalah konsep metaforik untuk melukiskan karakter dasar partai ini. Jadi banteng bermulut putih, bertanduk, mata merah, dstnya tentu saja memiliki makna tertentu sebagai konstruksi dan atau karakter partai dan kadernya. Karakter atau sifat-sifat metaforik banteng itulah yang mesti menjelma dalam laku politik elit dan kader partai ini.

Baca Juga  Bersiap Hadapi Pileg 2024, DPW PAN Gelar Muscab DPC PAN se-Maluku

Seperti sudah saya kemukakan, sifat-sifat atau karakter ini yang tidak hadir dalam laku elit dan kader partai ini di Maluku. Tidak hadirnya sifat-sifat tersebut praktis menimbulkan pertanyaan: mengapa?

Dalam wacana publik, karena laku bias ini ada saja yang menggunakan diksi “wong gede” vis a vis “wong cilik” sebagai bentuk kekesalan atau kekecewaan terhadap retorika dan klaim warga PDI-Perjuangan sebagai partai wong cilik.

Bias laku elit terutama mereka yang lagi-lagi di internal PDI-Perjuangan dikualifikasi sebagai “petugas partai” yang mengantar saya menggunakan diksi metaforik tandingan “tedong”.

Mengapa, karena ada kesejajaran sifat-sifat atau karakter seperti malas, makan melulu, pamrih, dan seterusnya hadir dalam laku elit dan terutama para petugas partai ini.

Baca Juga  Syukuran HUT Korem 151/Binaiya, Sederhana dan Penuh Khidmat

Terlampau banyak fakta empirik yang dapat dirujuk untuk menguji diksi metaforik tedong yang saya gunakan. Jadi misalnya, tahun lalu menjadi head line sejumlah surat kabar lokal yang memberitakan janji proyek kepada begitu banyak kontraktor yang konon sudah memberi duit.

Harusnya dugaan laku kader seperti ini patut ditangani secara internal karena potensial merugikan partai ini. Seyogianya patut dibentuk komite disiplin partai untuk menguji kebenaran dugaan yang rame sekali diberitakan media massa.

Herannya yang terjadi adalah berita media massa malah dibiarkan tenggelam dalam perjalanan waktu. Padahal soal ini sudah tergolong menghantam wibawa dan kehormatan partai ini. Dan potensial politik, sebenarnya dugaan ini juga menghantam public trust terhadap partai ini.

Lebih dari itu, mengambangkan masalah seperti ini atau laku bias para petugas partai pada umumnya, dari aspek etika politik, tentu menjadi problem yang cukup serius.

Baca Juga  Gugatan Partai Demokrat Diterima, PN Jakarta Pusat Siapkan Majelis Hakim

Jadi bagaimana mungkin PDI P memperjuangkan penegakkan hukum jika ada petugas partai terindikasi melakukan pelanggaran hukum?.

Jadi sebenarnya sangat berdasar jika saya kemudian menggunakan diksi metaforik tedong.

Diksi ini tidak mengandung makna merendahkan atau semakna itu. Malah para elit dan kader partai ini mesti berterima kasih kepada saya yang berterus terang dan menyentak kesadaran warga partai ini untuk mengambil lanngkah korektif dan perbaikan sebab sudah diketahui publik bahwa kondisi internal partai ini di Maluku sudah masuk kategori parah.

Jadi sebenarnya saya tidak merasa penting untuk meladeni reaksi Sahureka dan Pattilew yang menurut saya tersinggung hanya karena tidak cukup paham kritik dengan maksud baik.

Respons dua kader ini kalau dijelaskan dari patron-client perspective, akhirnya akan mengungkap siapa suhu di balik reaksi mereka.

Tentang yang satu ini saya amat mafum sekali. Moga-moga ada perbaikan. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.