Metafora “Tedong” dan Kemacetan Berpikir PDI-Perjuangan Maluku

oleh -125 views

Oleh: Bito Temmar, Politisi Senior

Metafora “tedong” vis a vis “banteng kekar” yang saya gunakan beberapa saat lalu untuk menggambarkan situasi PDI-Perjuangan Maluku saat ini, akhirnya direaksi dua kader PDI-Perjuangan, Sahureka dan Pattilew.

Semula saya berharap konsep metafor tedong sebagai tandingan terhadap banteng kekar bisa merangsang diskursus yang menginput elit PDI-Perjuangan Maluku melakukan perbaikan internal, tampaknya tidak terjadi.

Harapan bahwa melalui metafor tedong segera merangsang diskursus, malah berubah menjadi ajang serangan balik. Ini pertanda bahwa ada kemacetan berpikir di kalangan elit dan kader partai ini.

Kesengajaan menggunakan metafor tedong, karena mungkin tidak belajar, dua kader itu menganggap seolah-olah saya berusaha merendahkan. Padahal, sekali lagi, metafor tedong sebagai tandingan terhadap metafor resmi yang sekaligus menjadi lambang partai ini, banteng kekar, sangat evaluatif. Artinya metafor itu saya gunakan untuk menggambarkan situasi aktual partai ini.

Baca Juga  Foto Viral Tentara Israel Hantam Patung Yesus dengan Palu Godam Tuai Perdebatan

Sebagaimana saya sudah kemukakan, banteng kekar adalah konsep metaforik untuk melukiskan karakter dasar partai ini. Jadi banteng bermulut putih, bertanduk, mata merah, dstnya tentu saja memiliki makna tertentu sebagai konstruksi dan atau karakter partai dan kadernya. Karakter atau sifat-sifat metaforik banteng itulah yang mesti menjelma dalam laku politik elit dan kader partai ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.