Iran bahkan menutup Selat Hormuz, rute lalu-lintas tanker-tanker internasional yang mengangkut 20-25 persen kebutuhan energi dunia. Maka, terjadi krisis ekonomi global akibat melejitnya harga minyak dunia. Dalam keadaan terisolasi dan rendahnya dukungan rakyat, para pejabat AS dan Israel mulai menarasikan perang yang mereka ciptakan ini sebagai Armageddon.
Armageddon merujuk pada pertempuran terakhir dan dahsyat antara kekuatan kebaikan dengan kejahatan di akhir zaman, sering dikaitkan dengan kehancuran total atau akhir dunia. Tujuannya memobilisasi dukungan komunitas Kristiani dan Yahudi global untuk mendukung perang ini.
Ketika perang memasuki hari kelima, saat tujuan perang AS dan Israel tak tercapai dan mulai keawalahan menghadapi Iran, para pejabat AS dan Israel beretorika bahwa ini perang agama. Organisasi Hak-hak Sipil Muslim AS, yakni Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mengecam penggunaan retorika ini oleh Pentagon.
CAIR menganggapnya “berbahaya” dan “anti-Muslim”. Yayasan Kebebasan Beragama Militer (MRFF) melaporkan bahwa ia telah menerima aduan surel dari seorang perwira bahwa mereka diperintahkan untuk mengatakan kepada pasukan AS bahwa perang dengan Iran diniatkan untuk “menyebabkan Armageddon” atau kiamat biblikal.”









