Dalam perspektif historiografi modern, perjuangan Nuku adalah bagian dari sejarah universal. Ia tidak hanya berbicara tentang konflik lokal antara Tidore dan Ternate, tetapi juga menggambarkan kompleksitas relasi sosial, politik, dan ekonomi dalam pusaran kolonialisme global. Di dalamnya terdapat intrik kekuasaan, pengkhianatan, diplomasi, hingga solidaritas lintas etnis dan budaya.
Nuku adalah tokoh yang melampaui zamannya. Ia membangun aliansi lintas budaya, menjangkau kekuatan global seperti Inggris, dan mengorganisasi perlawanan yang melibatkan berbagai kelompok etnis dengan bahasa yang berbeda. Dalam konteks ini, Nuku telah mempraktikkan sebuah bentuk awal nasionalisme—nasionalisme kerakyatan yang tidak eksklusif, tetapi inklusif dan menyatukan.
Pandangan para sejarawan pun menguatkan hal tersebut. Nuku tidak dipandang sebagai pangeran tradisional biasa, melainkan sebagai figur dengan cakrawala geopolitik yang luas. Ia mampu membaca peta kekuasaan global dan menempatkan dirinya sebagai aktor strategis di dalamnya. Inilah yang menjadikannya lebih dari sekadar pemimpin lokal—ia adalah seorang negarawan.
Kesadaran politik Nuku juga terlihat dari kritiknya terhadap praktik ekonomi kolonial. Ia memahami bagaimana sistem perdagangan yang timpang membuat rakyat terjerumus dalam kemiskinan. Rempah-rempah dibeli dengan harga murah, sementara barang impor dijual mahal. Bagi Nuku, penjajahan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga eksploitasi ekonomi yang sistematis.












