Orang Maluku Mulai Kastinggal Sagu

oleh -77 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Peneliti Sagu dari Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon, Wardis Girsang, mengatakan bahwa orang Maluku mulai meninggalkan sagu. Orang Maluku katanya beralih ke beras.

“Provinsi Maluku merupakan daerah penghasil dan pengonsumsi sagu sebagai makanan pokok, tetapi yang terjadi saat ini orang Maluku mulai meninggalkan sagu dan beralih mengonsumsi beras,” tutur Girsang, Sabtu (22/6) di Ambon.

Wardis mengatakan orang Maluku yang mengolah dan memproduksi sagu saat ini, jumlahnya sangat sedikit. Hal tersebut berdampak pada kenaikan harga sagu, karena jumlah produksi yang terbatas, berpengaruh pada mahalnya harga sagu di pasaran, bahkan lebih mahal dari harga beras.

Wardis menjelaskan bahwa sagu menghasilkan pati kering sumber karbohidrat dan bisa diolah menjadi bioenergi.

Potensi sagu Maluku belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini diperparah dengan pola konsumsi orang Maluku yang perlahan-lahan meninggalkan sagu dan beralih ke sumber karbohidrat lain.

Baca Juga  Kapolda Maluku Terima Kunjungan Silaturahmi Kepala Satpol PP Provinsi Maluku

“Perubahan ini dikarenakan program pemerintah untuk mengatasi krisis pangan melalui program raskin yang saat ini lebih dikenal dengan rastra atau beras sejahtera, hal ini yang menyebabkan masyarakat lebih memilih konsumsi beras dibandingkan pangan lokal,” ujarnya.

Padahal, ia menjelaskan, sagu memiliki kadar kalori yang hampir sama dengan jagung dan beras, dan lebih mudah dibudidayakan.

“Sagu menyimpan air, patinya banyak dan tahan dengan perubahan iklim, berbeda dengan padi yang rentan terhadap hama dan penyakit dan banyak menghasilkan gas metan ke udara sehingga mempengaruhi pemanasan global,” katanya.

Sebagai bahan pangan pokok sebagaimana beras dan jagung, mestinya sagu bisa terus memperkaya ragam pilihan makanan pokok warga.

Baca Juga  Inggris Konfirmasi Kasus Pertama Virus Corona

“Potensi sagu sangat besar, jika dikembangkan oleh pemda akan menjadi penyangga pangan nasional, yang dimulai dengan merawat hutan sagu dengan tidak mengalihkan fungsinya, serta memproduksi sagu menjadi produk yang beragam dan diminati masyarakat,” katanya.

Wardis mengatakan, Pemerintah Provinsi Maluku, telah menetapkan Peraturan Daerah, Nomor: 10, Tahun 2011, tentang: Pengelolaan dan Pelestarian Sagu. Namun penerapannya belum diperhatikan secara serius.

“Sagu harus ditanam dan dirawat dengan baik dengan pengelolaan dari hilir sampai hulu sehingga masyarakat kembali mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok, dan makanan olahan sagu semakin beragam”, pungkasnya. (red)