Oranye, Ambon dan Seni Mencintai Kekalahan

oleh -22 views

Patah hati memang tidak selalu lahir dari kisah cinta.

Kadang ia datang dari sebelas orang berbaju oranye yang berlari ribuan kilometer jauhnya.

Namun beginilah menjadi pendukung sejati.

Kita tidak mencintai sebuah tim hanya ketika ia mengangkat trofi. Kita tetap tinggal ketika ia pulang lebih cepat. Kita tetap memakai jersey yang sama meski dunia sedang menertawakannya.

Sebab cinta yang hanya bertahan saat menang bukanlah cinta.

Ia hanyalah kekaguman sesaat.

Mungkin justru di saat-saat seperti inilah kesetiaan menemukan maknanya.

Belanda telah mengajarkan dunia tentang Total Football, tentang keberanian menyerang, tentang keindahan mengolah bola, meski sejarah sering kali begitu pelit menghadiahkan mereka gelar juara dunia. Tiga kali menjadi finalis, berkali-kali melahirkan generasi emas, tetapi takdir selalu menyisakan ruang kosong yang belum terisi.

Baca Juga  Sekda Maluku Buka Aksi Bersih Lingkungan Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Begitulah Oranje.

Indah untuk dikenang, sulit untuk dilupakan, tetapi sering meninggalkan luka bagi mereka yang mencintainya.

Dan Ambon tahu persis bagaimana rasanya mencintai sesuatu yang tidak selalu memberi kemenangan.

Karena kota ini sendiri lahir dari sejarah yang penuh kehilangan, tetapi tak pernah kehilangan harapan.

Besok pagi, kehidupan akan kembali berjalan. Anak-anak akan bermain bola lagi. Warung kopi kembali ramai. Obrolan akan bergeser pada pertandingan berikutnya. Sebagian mungkin mulai mendukung tim lain demi menjaga asa di Piala Dunia ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.