Lalu hari itu datang.
Belanda bermain baik. Mereka mendominasi. Mereka menciptakan peluang. Mereka tampak seperti tim yang memang pantas melangkah lebih jauh.
Tetapi sepak bola tidak pernah tunduk pada logika.
Ia sering kali memilih puisi dibanding matematika.
Ia lebih senang menghadirkan kejutan daripada memenuhi ramalan.
Dan ketika adu penalti menjadi penentu nasib, semua prediksi, statistik, algoritma, bahkan keyakinan para pengamat berubah menjadi sekadar angka yang kehilangan makna.
Belanda kalah.
Seketika semua ramalan ikut gugur.
Saya pun termasuk orang yang percaya Oranje akan melaju jauh. Saya pernah meyakini bahwa generasi kali ini memiliki keseimbangan, kedalaman skuad, dan kedewasaan bermain yang cukup untuk mengakhiri penantian panjang.
Ternyata keyakinan juga bisa salah.
Ramalan, sehebat apa pun, tetaplah manusia yang sedang mencoba menebak kehendak Tuhan.
Sepak bola mengajarkan kerendahan hati dengan cara yang paling menyakitkan.
Di Ambon, saya membayangkan ada banyak pendukung yang memilih mematikan televisi tanpa berkata apa-apa. Ada yang masih duduk memandangi layar kosong. Ada yang enggan membuka media sosial karena tak ingin membaca ejekan dari sahabat-sahabat pendukung Brasil, Argentina, Jerman, Inggris, atau Maroko.









