Pahlawan Soeharto dan Negara Amnesia

oleh -284 views

Oleh: Lukas Luwarso, Jurnalis senior, Kolumnis

“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Ungkapan Milan Kundera, dalam buku The Book of Laughter and Forgetting(1979), ini aktual untuk mengingatkan Kementerian Sosial yang kembali mengajukan nama Soeharto untuk dikukuhkan sebagai “pahlawan nasional”.

Setiap menjelang Hari Pahlawan 10 November, sejak 2010, nama Soeharto sering muncul dalam daftar usulan pahlawan nasional. Dan selalu memunculkan kontroversi pro-kontra di ruang publik. Apakah Indonesia, khususnya kaum pro-pahlawan-Soeharto, mengalami amnesia politik, atau menderita demensia akut? Lupa tragedi kelam sejarah yang mewarnai 32 tahun kekuasaan otoriter Soeharto, sehingga terus berupaya menjadikannya pahlawan?

Untuk Menteri Sosial Syaifullah Yusuf, yang pernah mengalami persekusi saat menjadi aktivis Aliansi Jurnalis Independen di era Orba, memvalidasi usulan kepahlawanan Soeharto sungguh bertentangan dengan nalar dan nurani. Juga bagi kaum amnesia-demensia politik yang mengusulkan, berikut lima alasan kuat mengapa Soeharto tidak layak menjadi pahlawan nasional, secara historis, etis, maupun filosofis:

Jejak pelanggaran Hak Asasi Manusia yang masif dan sistemik

No More Posts Available.

No more pages to load.