Nelayan Tamilouw melaut bukan dengan kapal besar dan jaring pukat, tapi dengan perahu kecil, seutas kail, dan senar pancing. Mereka berangkat sebelum fajar, menjemput rezeki yang tak pernah pasti. Mereka tidak meminta banyak—hanya laut yang tetap tenang, dan hasil yang cukup untuk dibawa pulang.
Ibu rumah tangga di negeri kecil Maraina menyulap keterbatasan menjadi keseharian. Mereka ingin dapur tetap hangat, anak tetap sekolah, dan kesehatan tidak menjadi kemewahan.
Dan para pegawai negeri—mereka tidak butuh disanjung. Mereka hanya ingin ruang kerja yang adil. Yang mereka takutkan bukan kekurangan gaji, tapi kehilangan martabat. Mereka ingin melayani rakyat, bukan kepentingan politik. Jangan jadikan mereka mesin kekuasaan. Mereka adalah wajah negara yang paling nyata di hadapan rakyat.
Di sudut-sudut kantor, di baliho dan halaman-halaman buku, terselip semboyan yang dulu dibaca dengan dada tegak: “Jangan jemu mendaki jika ingin ke puncak cita.” Tapi waktu berlalu, dan semboyan itu kini tinggal tulisan—dilihat, tapi tak lagi dihidupi. Mungkin karena terlalu sering rakyat mendaki, tapi tak pernah sampai. Mungkin karena puncaknya terlalu jauh, atau jalan ke sana terlalu sunyi.
Hari ini, harapan itu perlahan mengarah pada satu nama yang telah dipilih untuk memegang kemudi: Zulkarnain Awat Amir.








