“Di bawah kendali pemerintah, kami senang dan setidaknya menikmati kebebasan,” kata Baig, menurut laporan Financial Times.
“Sejak Taliban mengambil alih, kami merasa tertekan,” ucap ayah ini.
“Di rumah, kami tidak bisa berbicara keras, tidak bisa mendengarkan musik, dan wanita tidak bisa ke pasar Jumat,” lanjutnya.
“Mereka bertanya tentang anggota keluarga. Komandan (Taliban) mengatakan Anda tidak boleh menjaga anak perempuan di atas usia 18 tahun, itu berdosa, mereka harus menikah,” terangnya.
“Saya yakin keesokan harinya mereka akan datang dan mengambil putri saya yang berusia 23 dan 24 tahun dan menikahi mereka dengan paksa,” ungkap seorang ayah penuh cemas tentang masa depan putrinya.
(red/kompas)




