Penulis : Riki Hambali Tanjung (Ketua Umum HMI Komisariat Pers’ FIS UIN-SU Periode 2019-2020)
Membicarakan seseorang secara utuh tidaklah cukup tanpa kita ketahui akar budaya dimana orang tersebut dibesarkan. Karena itu sangat penting untuk membentuk kehidupan seseorang, mulai dari siapa orangtua nya, kakek neneknya, karekteristik keluarga, lingkungannya, sekolah yang membentuknya, guru, buku bacaannya hingga kultur budaya saat itu. Sangat perlu kita mengulik dan memotret secara lengkap untuk kita ketahui.
Suatu keniscayaan untuk kita ketahui siapa Cak Nur yang membesarkannya, sebelum beranjak membahas ide-ide besar penuh dengan sihir yang diproduksi sepanjang kariernya. Sang guru bangsa ini penuh dengan dinamika sepanjang hidupnya. Dihujat dicaci itu udah biasa, tetapi secara diam diam diikuti, banyak juga lawan yang berubah menjadi kawan. Kiranya tidak salah jika Cak Nur dijuluki sebagai ” Trilogi Pemikiran Cak Nur ” yaitu tauhid, pluralisme dan indonesia sebagai modern nation state. Yang sering disalah pahami oleh banyak kawan dan lawan dengan pemikirannya.
Namanya Nurchalish, berasal dari bahasa arab nur dan khalish. Nur artinya cahaya khalis artinya murni, berarti Nurchalish adalah cahaya murni atau cahaya laser yang mampu menembus segala sesuatu dibalik suatu benda. Sebenarnya di waktu kecil kedua orangtua nya memberikan namanya Abdul al-Malik ( Abdul Malik berarti hamba sang raja ) akan tetapi ia sakit sakitan terus, istilah orang kampung bilang keberatan nama, karena itu kedua orangtua nya mengganti nama Nurchalis dan menambah nama ayahnya di belakang namanya Madjid.




