Lalu pada tahun 1947 dan 1948, Indonesia secara resmi diserbu Militer Belanda pada Agresi I dan II, dengan mengerahkan 200,000 pasukan militernya. Belanda secara sepihak membatalkan Perjanjian Renville yang ditanda tangani diatas kapal perang AS USS Renville tersebut. Namun perlawanan gerilya “hit and run” dari Panglima Besar Sudirman, yang sementara sakit paru-paru berat, beserta rakyat, berhasil melumpuhkan militer Belanda.
Bahkan panglima pasukan KNIL, Jenderal Simon Hendrik Spoor pun tewas tertembak oleh pasukan gerilya pimpinan Kapten Maraden Panggabean di Sumatera Timur (Sumut sekarang), walau versi Belanda menyebutnya tewas diracun oleh operasi telik sandi gerilya Indonesia, karena saking malunya Belanda untuk mengakui sang jenderalnya tewas ditangan pasukan TNI.
Nah, sekarang pemilu juga adalah tak lepas dari campur tangan kepentingan asing dan aseng. Karena posisi geostrategis, dan SDA Indonesia yang sangat kaya dan melimpah, begitu menjanjikan baginsiapapun yang menguasainya.
Nusantara memang telah lama diincar, bahkan sejak era Kediri di bawah Raden Wijaya dan Kertanegara, telah diinvasi oleh Pasukan Kubilai Khan sebanyak dua kali, namun 30,000 prajurit Mongol yang sangat kesohor dan ditakuti tersebut, justeru kocar-kacir di tanah Jawadwipa pada 1293, bahkan komandannya Meng Khi, dipotong hidungnya oleh pendekar-pendekar pribumi yang tak rela tunduk kepada asing dan aseng.










