Ini menurut peneliti tersebut adalah Pulau Halmahera di Maluku, Indonesia. Daerah itu dahulunya adalah hutan belantara, sehingga perumahan tidak dapat dibangun di kawasan itu, dan inilah, menurutnya, yang dimaksud oleh ayat berikut dengan tidak ada bagi umat itu sesuatu yang melindunginya dari cahaya matahari.
Menurut Quraish Shihab, firman Allah lam naj’al lahum min duniha sitran/Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindungi mereka darinya, di samping makna yang dikemukakan di atas ada juga yang memahaminya dalam arti “suatu kaum yang hidup dengan fitrah asli mereka, tidak ada penutup yang mengalangi mereka dari sengatan panas matahari, tidak pakaian, tidak ada juga bangunan.
Kemudian firman Allah ahathna bima ladaihi khubran/Kami meliputi segala apa yang ada padanya, bukan saja penegasan bahwa Allah Yang Maka Mengetahui, tetapi agaknya Dia juga bermakna Allah mengawasi dan membimbing Dzulqarnain dalam langkah-langkahnya. Atau dapat juga berarti bahwa apa yang diceritakan itu adalah sebagian kisah perjalanannya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi dalam perjalanannya itu, termasuk suka duka dan perjuangan Dzulqarnain.
“Karena itu jangan heran jika informasi ini sangat teliti, jangan juga duga sekian apa yang tidak diuraikan adalah karena tidak diketahui-Nya,” ujar Quraish Shihab. (*)










