Lebih lanjut, Arifki memaparkan, hal tersebut sejatinya merupakan persaingan yang biasa dalam politik dengan aksi sebagian menteri untuk mendapatkan perhatian guna masuk pemerintahan baru mendatang. Dia juga melihat bahwa sebetulnya fenomena ini bukan menjadi masalah besar.
Apalagi, katanya, Prabowo sekarang ini mengidentikkan diri dengan Jokowi. Selain itu, ada pula Gibran Rakabuming Raka yang merupakan putra sulung Jokowi sekaligus wakil presiden dari Prabowo.
Meski demikian, dia menyebut hal ini tetap berpotensi memicu ketidaksolidan dan disharmonisasi dalam kabinet sehingga bisa memengaruhi kinerja pemerintahan.
“Yang paling menyebabkan ketidaksolidan ini bukan hubungan Pak Jokowi dengan Pak Prabowo, tetapi bagaimana para menteri bermanuver. Mau enggak mau karena Pak Jokowi enggak mungkin merekomendasikan semua menteri di hari ini jadi menteri Pak Prabowo, kemudian secara enggak langsung Mas Gibran ini kan juga mewakili Pak Jokowi, dan Mas Gibran tentu juga berkepentingan menentukan orang-orang dia di pemerintahan Prabowo-Gibran nantinya,” ucapnya.
Menurut Arifki, soliditas kabinet dapat terjaga salah satunya dengan tetap satu suara dan berkomitmen penuh dalam bekerja selama sisa pemerintahan Presiden Jokowi, bukan justru fokus mengambil panggung agar dilirik pemerintahan baru. (red/beritasatu)




