Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal Berbasis Sound of Green Memberdayakan Gandaria (Bouea macrophylla) Tumbuhan Endemik Maluku

oleh -120 views
Link Banner

Oleh: Prof. Dr. Pamella Mercy Papilaya, M.Pd, Guru Besar FKIP Unpatti Ambon

Mendukung Ambon sebagai kota kreatif dunia oleh UNESCO bersama 65 kota dunia lain, maka secara aktual telah diterapkan kurikulum muatan lokal wajib Pendidikan musik pada satuan pendidikan dasar kota Ambon. Untuk mendampingi kurikulum muatan lokal wajib pendidikan musik, telah dikembangkan juga kurikulum muatan lokal pendamping dengan prinsip diversifikasi menampilkan sebuah inovasi baru dalam bidang pendidikan sains yaitu Sound of Green (SoG) yang melibatkan lingkungan hidup sebagai sumber belajar.

Pendekatan Sound of Green merupakan salah satu pendekatan tindakan konservasi peserta didik, penerapan pola agroforesty dan pengembangan kuliner lokal. Sebuah pendekatan yang mengarah kepada pelestarian lingkungan.

Selain itu pendekatan ini mengangkat nilai ekonomis penggunaan tumbuhan lokal Maluku, pemanfaatan limbah tumbuhan, pembelajaran melalui sekolah alam dan musik, perhitungan nilai karbon dari hutan tumbuhan lokal, pembentukan kelompok tani, pembentukan komunitas kreatif kuliner melalui satuan-satuan Pendidikan dan membangun Negeri wisata musik kota Ambon (Loppies 2020).

Dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pendekatan Sound of Green ini, terdapat tiga nilai penting yang perlu dikembangkan dalam pada satuan pendidikan dasar yaitu 1) lingkungan sebagai sumber belajar; 2) lingkungan sebagai sumber konservasi; dan 3) lingkungan sebagai sumber pengelolaan ekonomi kreatif

Keanekaragaman tumbuhan di Indonesia khususnya daerah Maluku dengan jenis-jenis endemiknya seperti Gandaria (Bouea macrophylla), merupakan ciri khas yang memperkaya nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia khususnya orang Maluku. Oleh karena itu keanekaragaman tersebut harus selalu dilestarikan, dikembangkan, dan dipertahankan melalui upaya pendidikan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan bahwa Kurikulum 2013 selain memuat mata pelajaran, juga memuat Muatan Lokal yang wajib diberikan pada semua tingkat satuan pendidikan. Kebijakan yang berkaitan dengan dimasukkannya Muatan Lokal yang berkaitan dengan sumber daya alam dalam Standar Isi dilandasi kenyataan bahwa di Indonesia terdapat beranekaragam sumber daya alam.

Sekolah adalah tempat program pendidikan dilaksanakan merupakan bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, program pendidikan sains di sekolah perlu memberikan wawasan yang luas kepada peserta didik tentang kekhususan yang ada di lingkungannya.

Salah satu contoh adalah mengembangkan tumbuhan lokal atau tumbuhan endemik. Pengenalan keadaan lingkungan, sosial, dan budaya yang mengarah lebih khusus kepada kekhasan sumber daya alam tumbuhan lokal kepada peserta didik memungkinkan mereka untuk lebih akrab dengan lingkungannya karena akan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan kehidupan mereka.

Baca Juga  AMGPM Bikin Pelatihan Relawan Bencana di Tifure

Hal ini sejalan dengan tujuan Pembangunan berkelanjutan oleh UNESCO pada Sustaninable Development Goal 4 (SDGis 4) khususnya Quality Education, dengan Agenda 2030 yaitu “rencana aksi untuk manusia, dan kemakmuran, memastikan pendidikan berkualitas yang adil dan mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua.

”Tujuan-tujuan ini tidak dapat dipisahkan karena mengandung sebuah kesatuan yang mengcakup dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan.

Pengembangan kurikulum Muatan Lokal berbasis Sound of Green memberdayakan tumbuhan Gandaria (B.Macrophylla) memberikan peluang kepada peserta didik kita untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dalam pengelolaan pangan buah lokal yang dianggap perlu pada Pendidikan dasar.

Oleh karena itu, Pengembangan kurikuluim Muatan Lokal berbasis Sound of Green harus memuat karakteristik budaya lokal Maluku, keterampilan, nilai-nilai luhur budaya mengangkat permasalahan social dan lingkungan yang pada akhirnya mampu membekali peserta didik kita dengan keterampilan dasar pengelolaan sumber daya alam sebagai bekal dalam kehidupan (life skill), serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Proses pembelajaran muatan lokal berbasis Sound of Green tidak hanya mentransfer konsep sumber daya alam endemik Maluku serta perwujudan nilai-nilai, tetapi menggunakan budaya untuk menjadikan peserta didik mampu menciptakan makna, menembus batas imajinasi, dan kreatif dalam mencapai pemahaman yang mendalam tentang materi yang diperoleh sebagai suatu sistem ide atau gagasan yang dimiliki suatu masyarakat melalui proses belajar dan dijadikan acuan tingkah laku dalam kehidupan sosial bagi masyarakat Maluku.

Keluhuran dan kehalusan budi manusia adalah hasil dari proses pembelajaran dan kebudayaan, yaitu dengan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan sehingga tercipta manusia yang beradab dan berbudaya (Kurniawan, et al., 2019).

Salah salah satu upaya dalam menghadapi hal tersebut, yakni dengan penanaman konsep nilai budaya lokal berbasis budaya kuliner dalam suatu model pembelajaran yang dijadikan sebagai kerangka konseptual atau pedoman dalam pembelajaran oleh guru, yang di dalamnya terdiri dari materi atau bahan ajar, media, maupun metode pembelajaran yang tepat.

Baca Juga  Kapolda Maluku Bertemu Pamenwas, Ini Perintahnya

Kurikulum ini diterapkan sebagai kurikulum penunjang kurikulum wajib pada pendidikan dasar kota Ambon di 10 sekolah Pilot Projek pengembangan kurikulum muatan lokal wajib Pendidikan Musik. Sekolah-sekolah ini terdapat pada negeri-negri yang termasuk dalam DAYA TARIK WISATA MUSIK DI KOTA AMBON sesuai SK Walikota No. 560 tahun 2021.

Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka yang digulirkan Kemendikbudristek mendorong mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UNPATTI mampu mencapai kompetensi personal dan sosial. Namun, pandemi Covid-19 yang masih melanda hingga saat ini menghambat ketercapaian kompetensi sosial mahasiswa.

Pandemi Covid-19 mendorong perguruan tinggi melakukan transformasi sistem belajar mengajar. Transformasi ini juga sejalan dengan upaya program Kampus Merdeka dalam mencapai kompetensi sosial mahasiswa.
Pandemi Covid-19 mendorong Universitas Pattimura dalam hal ini FKIP Unpatti melakukan transformasi sistem belajar mengajar.

Transformasi ini juga sejalan dengan upaya program Kampus Merdeka dalam mencapai kompetensi sosial mahasiswa. Karena kita menghadapi disrupsi dan pandemi cukup besar, maka mari kita kemas Kampus Merdeka ini dengan mengusung pilar pendidikan sesuai dengan kompetensi abad 21. Sebagai jawaban atas tema besar Dies Natalis ke-60 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpatti yang sedang berlangsung saat ini “Tansformasi FKIP Unpatti Di Usia 60 Tahun”.

Literasi digital menjadi semakin penting dalam abad ke-21, mengingat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat.

Dengan begitu, melalui literasi digital ini, mahasiswa program studi pendidikan biologi akan memiliki kemampuan yang luar biasa untuk berpikir, belajar, berkomunikasi, bekerja sama serta berkarya, melatih jiwa entherprneusip secara teratur, terstruktur dan berkesinambungan dengan mengembangkan potensi diri dengan cara belajar secara mandiri sehingga bebas dan fleksibel dalam bekerja yang nantinya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional khususnya di Provinsi Maluku, sehingga mampu mendukung program pemerintah untuk memutus mata rantai pengangguran.

Ada empat pilar pendidikan yang menjadi target transformasi pendidikan tinggi melalui Kampus Merdeka. Empat pilar tersebut yaitu belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk berkehidupan, serta belajar untuk menjadi sumber daya profesional sesuai bidang Pendidikan Biologi yang ditargetkan.

Jika keempat pilar tersebut menjadi roh Kampus Merdeka dengan dibarengi transformasi pembelajaran yang baik, kompetensi personal dan sosial akan bisa dicapai. Salah satu transformasi yang dilakukan adalah pembaruan kurikulum Program studi Pendidikan Biologi.

Baca Juga  Jokowi Ingin Bangun Pelabuhan 700 Hektare di Ambon,ini Respon Bu Susi

Kurikulum ini harus terus diperbarui. Hal ini untuk memastikan bahwa pembelajaran di kampus FKIP Unpatti Program studi Pendidikan Biologi tetap cocok dengan kebutuhan dunia kerja.

Program Kampus Merdeka menjadi momentum mendekatkan kampus dengan dunia kerja. Program magang di dunia kerja saat ini tidak lagi dilakukan untuk beberapa program studi. Namun, seluruh program studi memiliki kesempatan melakukan magang di dunia kerja.

Dengan updating kurikulum, dengan mendatangkan praktisi atau mendatangkan sivitas ke berbagai tingkatan satuan pendidikan, maka kita bisa lakukan inovasi transformasi sistem belajar mengajar memperkenalkan sumber daya alam Maluku kepada dunia pendidikan dan masyarakat.

Beberapa pengembangan kurikulum muatan lokal dan program berbasis pendekatan Sound of Green yang telah dikembangkan dan akan dikembangkan antara lain:

  1. Pengembangan kurikulum muatan lokal ekopedagogik pendidikan lingkungan
    hidup (PLH) berbasis Sound of Green
  2. Pengembangan kurikulum muatan lokal gandaria penunjang ekonomi kreatif
    berbasis Sound of Green
    Selain dua kurikulum pendamping yang disiapkan untuk mendampingi kurikulum wajib Pendidikan musik kota Ambon, telah disiapkan juga kurikulum pendamping dan program lain untuk mempersiapkan masyarakat di negeri-negeri yang termasuk dalam Daya Tarik Wisata Musik di Kota Ambon antara lain:
  3. Kurikulum muatan lokal Ilmu gizi berbasis tumbuhan lokal. Kurikulum ini diterapkan dengan tujuan untuk mempersiapkan perilaku gizi peserta didik usia sekolah.
  4. Kurikulum muatan lokal kreatif non kayu. Kurikulum ini diterapkan dengan tujuan untuk menjaga kelestarian hutan melalui pemberdayaan peserta didik sekitar hutan melalui pemanfaatan hasil hutan nonkayu lokal menjadi produk kreatif kerajinan.
  5. Program pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan agroforestry melalui Participation Rural Apraisal.
    Besar keyakinan saya bahwa baik kurikulum Pendidikan musik di Ambon City of music, kurikulum mutan lokal pendamping kurikulum Pendidikan musik akan menjadi kurikulum nasional yang berbeda dengan kurikulum nasional yang lain, sebuah pemikiran dari timur yang berbeda dengan daerah lain karena Maluku memiliki ecoregion yang berbeda.

*Disampaikan pada pengukuhan Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Biologi, FKIP Unpatti Ambon, 23 Agustus 2021