Pentingnya Memori atas Boven Digoel bagi Indonesia”

oleh -1 Dilihat

Oleh: Syaiful Bahri Ruray, Cucu Penyintas Kamp Konsentrasi Boven Digoel

“A country without memory
is a nation of madmen.”
[George Santayana].

Prakata.

BAGAIMANA mungkin kelompok-kelompok masyarakat yang miskin dan lemah tapi punya kekuatan bermimpi melepaskan diri dari kemiskinan dan ketertidakberdayaan mereka dengan menggunakan kekuatan mereka, terutama di zaman ketika pandangan tentang akhirat semakin samar dan ketika penderitaan dunia menjadi lebih kasat mata dan semakin tak tertahankan? (Alexis de Tocqueville, Recollections, 1851).

Mengawali wacana, perkenanlah saya mengutip kalimat Alexis de Tocqueville diatas yang dikutip kembali oleh Elizabeth Fuller Collin dalam bukunya: Indonesia Dikhianati (2008) pada prolognya.

Menarik mengkaji ungkapan Tocqueville karena Revolusi Perancis, dimana jebolnya penjara Bastille, sebagai tonggak awal perubahan mendasar, tidak serta merta menghasilkan perbaikan sebagaimana cita-cita luhur semboyan liberte, fraternite, dan egalite tersebut. Karena Alexis de Tocqueville merekam pada tahun 1850 masih terjadinya kelaparan dan ketertinggalan yang menyengsarakan rakyat, karena gagalnya kepemimpinan politik dan korupsi pemerintahan, sebagaimana suratnya kepada rekannya, Nassau William Senior, pada 1848. Padahal di Paris mulai bangkitnya kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan berserikat, dan pemberian hak pilih kepada semua orang. Terdapat 479 surat kabar baru di Paris pada 1848, perkumpulan politik bermunculan dalam bentuk jaringan organisasi-organisasi dimana-mana. Ia merekam 203 perhimpunan dengan lebih dari 70.000 anggota. Namun saja, kebebasan luar biasa tersebut, tidak serta serta menghadirkan kekuatan sosial yang dapat dijadikan tumpuan untuk membebaskan rakyat dari tekanan dan depresi. Bahkan yang terjadi adalah demonstrasi terjadi dimana-mana sebagai ungkapan aksi protes atas nasib rakyat.

No More Posts Available.

No more pages to load.