Pentingnya Memori atas Boven Digoel bagi Indonesia”

oleh -1 Dilihat

Adalah Prof. Takashi Shiraishi (Hantu Digoel, Politik Pengaman Politik Zaman Kolonial, 2001), seorang sejarawan dengan spesialis Boven Digoel dari Kyoto University, yang menyebut bahwa di Digoel lah terjadi persemaian dan akumulasi gagasan serta ideologi nasionalisme yang melahirkan Indonesia. Kenapa itu terjadi? Karena di Boven Digoel lah kamp konsentrasi pertama dalam sejarah dikenal dunia yang mendahului Kamp Konsentrasi Yahudi yang dibangun Nazi Jerman pada Perang Dunia II, dan Kamp Gulag, Siberia, pada era Uni Soviet, bertemu para aktivis kemerdekaan dengan berbagai latar belakang, baik ideolog, daerah, partai, yang berinteraksi membentuk gagasan kemerdekaan Indonesia. Boven Digoel memang bukan sekedar penjara alam biasa-biasa saja, apalagi dibandingkan dengan dengan Abughraib, Guantanamo, Kuba, yang baru saja ditutup Joe Biden pada akhir Januari 2022.

Baca Juga  GPM ke-93 Digelar di Tual, Pemerintah Tekan Harga Pangan dan Bantu Warga

Dari Digoel-lah holocaust gagasan kebangsaan Indonesia diberangus oleh kolonial Belanda. Dan itu berlangsung sejak 1926 hingga takluknya Belanda karena serbuan Pasukan Dai Nippon ke Hindia Belanda pada 1942. Tercatat banyak tahanan yang gila, mati, karena mencoba melarikan diri namun kemudian lenyap tak tentu rimbanya, ataupun tunduk pada kemauan penguasa kolonial. Gagasan tentang Indonesia, sengaja dihancurkan dari Digoel, sejak 1926 tersebut, namun Shiraishi menyebutkan dari Digoel-lah sebenarnya kemerdekaan sebuah bangsa baru, Indonesia, terkristalisasi menjadi solid. Bahkan dalam catatan biografi I.F.H. Chalid Salim (Lima Belas Tahun, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea, 1977), juga Mohamad Bondan (Memoar Seorang Eks-Digoelis. Totalitas Sebuah Perjuangan, 2011), dan isterinya Molly Bondan alias Molly Warner (In Love with A Nation, Penuturan Dalam Kata-Katanya Sendiri, 2008), menjelaskan implikasi luas dan pengaruh dari Boven Digoel, telah bergulir jauh hingga manca negara. Hingga Australia, Eropa, bahkan New York melalui pertarungan diplomasi Indonesia di berbagai forum internasional. Australia bangkit membela Indonesia, sebagai bangsa baru, terjadi karena para Digoelisten telah merebak mata dunia di berbagai kota-kota besar Australia. Aktivis buruh Australia, hingga New Zealand, bangkit menyatakan simpati, mendukung eks Digoelisten. Mereka berkampanye dan berhasil memblokade kapal-kapal KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschapij) yang hendak bongkar muat amunisi di pelabuhan Australia untuk tujuan menduduki kembali Indonesia, guna menjadikannya negara jahahan. Karena Digoel-lah, sehingga Australia (Richard C. Kirby) mengajukan diri sebagai wakil Indonesia, dalam perundingan Komisi Tiga Negara, yang dimediasi Amerika Serikat (Frank B. Graham). Sedangkan pihak Belanda diwakili Belgia (Paul van Zeeland). Komisi ini bertugas menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda, karena sikap Belanda yang ngotot mau kembali menjajah Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.