Percakapan Hayal Soekarno-Hatta

oleh -13 Dilihat

Bayangan di luar berubah: pasar, pusat perbelanjaan, grafik ekonomi yang naik turun.
“Dulu kita merancang Indonesia sebagai rumah besar,” kata Soekarno perlahan. “Sekarang aku melihatnya seperti pasar. Ramai, tapi tidak selalu adil.”

“Pasar tidak selalu salah,” jawab Hatta. “Tapi pasar tanpa aturan melahirkan ketimpangan.”

“Ketimpangan!” suara Soekarno meninggi. “Aku menyebutnya pengkhianatan terhadap keadilan sosial!”

Hatta tidak langsung membantah. “Kekayaan terkonsentrasi. Banyak yang tertinggal. Kita dulu bicara tentang kedaulatan ekonomi. Sekarang, apakah kita benar-benar berdaulat?”

Soekarno berdiri, gelisah. “Tidak! Kita ingin berdikari! Tapi kini terlalu banyak keputusan ditentukan oleh tekanan luar dan kekuatan gelap—pasar global, investor, opini internasional, oligarki!”

“Globalisasi tidak bisa dihindari,” jawab Hatta. “Masalahnya bukan keterbukaan, tapi lemahnya strategi.”

Baca Juga  Profil Muhammad Sarmuji, Sekjen Golkar yang Kini Jadi Menteri Perindustrian

“Ah, lagi-lagi strategi,” gumam Soekarno.

“Dan lagi-lagi Bung terlalu percaya spontanitas sejarah,” balas Hatta. “Negara butuh visi besar dan eksekusi disiplin.”

Bayangan berganti lagi: ruang parlemen, kampanye, layar televisi yang penuh perdebatan.
“Bagaimana dengan demokrasi kita?” tanya Soekarno.

Hatta menatap lurus ke depan. “Demokrasi sekarang sering berhenti pada prosedur. Pemilu ada, tapi kualitas pilihan belum tentu meningkat.”

No More Posts Available.

No more pages to load.