Pak JK dengan statemennya justru, mengajak rakyat dan umat di Indonesia yang heterogen dan majemuk, bisa mengambil esensi dan substansi dari relasi antaragama yang dinamis dan bisa bertemu pada satu titik nilai-nilai universal, yakni kemanusiaan.
Terkadang karena kepentingan politik dan kekuasaan, orang atau kelompok tertentu, sering menjadikan agama sebagai isu dan strategi untuk menciptakan konflik dan peperangan.
Menghidupkan luka lama, membenturkan kepentingan satu dengan lainnya, menciptakan adu domba, kerap menjadi trigger untuk membangun permusuhan dan kebencian antar agama.
Pak JK yang banyak berkontribusi dalam kehidupan kebangsaan dan keagamaan Indonesia seperti Deklarasi Malino I dan Malino II dalam konflik Poso dan Ambon (2001-2002), Inisiator Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), upaya menghidupkan moderasi beragama dll. Pak JK sama halnya dengan seluruh rakyat Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila dan semangat religiusitas. Tak lebih sekedar mengingatkan agar keharmonisan dan keselarasan antar umat itu bisa terus dijaga, dirawat dan dilestarikan betapapun ada perbedaan mendasar dan prinsipil sekalipun dalam setiap agama.
Sehingga dengan kebijaksanaan dan kematangan memaknai hakekat relasi keagamaan seperti yang disampaikan Pak JK. Selayaknya semakin menambah kesadaran Ketuhanan dan kemanusiaan sesuai dengan keyakinan keagamaan masing-masing umat dalam kehidupan kebangsaan.









