Dulu kita punya banyak perempuan hebat yang lahir dan memimpin seiring kejayaan peradaban. Entitas keperempuanan yang hebat itu dinarasikan dalam keyakinan dan kebudayaan. Kosmologi orang-orang Maluku misalnya, menempatkan perempuan dalam kasta tertinggi. Ia “dihormati” dalam mitos dan keyakinan. Pulau Seram yang besar itu dinamakan Nusa Ina – pulau Ibu. Sebuah simbol pengingat darimana kehidupan bermula. Dan karenanya, patut mendapat penghormatan dalam laku dan nilai-nilai yang dipeluk erat.
Ketika orang-orang Halmahera yang “terusir” karena perang mendatangi pulau Ternate, mereka membentuk koloni dan mendiami sebuah dataran tinggi di lereng Gamalama. Dari situ peradaban Ternate bermula. Pemimpin koloni itu adalah perempuan. Sebagaimana penyebutan gelar untuk pemimpin itu – “momole”. Momole dibentuk dari dua suku kata ; “mo” dan “mole”. Mole disini berarti kekuatan atau kebesaran. Mo adalah kata sifat yang menunjukan ke-perempuan-an. Dalam tafsir Ternate, Ia menjadi penanda sesuatu yang spesial. Menegasi keberpihakan pada perempuan atau Ibu.
Momole lebih mencerminkan wajah kepemimpinan yang merangkul dan melindungi. Dengan itu, perempuan bernama Guna yang belakangan dicatat sebagai momole Guna memerintah koloni Tabona dengan bijak. Guna kemudian menyerahkan kepemimpinannya ke momole Matiti di Foramadiyahi. Sejarah menulis, kelak jabatan momole itu berpindah ke tangan Cico yang mendiami kawasan syampalo. Cico atas persetujuan Guna dan Matiti kemudian mendirikan kerajaan Ternate dan mengganti namanya menjadi Mashur Malamo pada tahun 1257.




