Peyempuan

oleh -120 views

Dalam mitologi Yunani, hiduplah seorang dewi cantik yang menarik banyak mata. Namanya Medusa. Ia seorang pendeta yang kesehariannya bekerja di kuil. Suatu ketika, Poseidon – dewa yang menguasai lautan jatuh hati. Matanya menerawang penuh nafsu. Medusa lalu diperkosa. Sadar kuilnya kotor, Athena malah menyalahkan Medusa. Poseidon tak tersentuh. Perempuan jelita itu dikutuk menjadi monster. Tak ada laki-laki yang akan meliriknya. Rambutnya diubah jadi juntaian ular- ular berbisa. Netra siapapun yang melihat Medusa secara langsung akan jadi batu.

Jess Zimmerman, penulis buku “Women and other monsters : building a new mytology” menyebut, cerita-cerita perempuan kebanyakan dimitoskan sebagai yang jahat, licik, berwajah cantik namun menipu dan kadang terlalu pintar berburu kuasa. Semua cerita itu dikonstruksi oleh laki-laki. Berawal dari ketakutan mereka. Yunani yang jadi sentral kebudayaan masa renaissance berkontribusi menyebar mitos berisi ‘ketakutan” itu ke berbagai negara. Berkelindan dengan cerita-cerita lokal. Kuntilanak dan “puntiana” misalnya, semuanya perempuan. “Ada ketakutan laki laki akan kehilangan peran dan kedigdayaan. makanya perempuan dibuat jadi seram”.

Baca Juga  5 Cara Keluar dari Situationship yang Melelahkan Tanpa Drama

Sebuah pengingkaran yang terus dipelihara. Mengabaikan kemanusiaan yang penuh cinta dan kesetaraan. “Ketakutan adalah musuh logika”, begitu menurut Frank Sinatra. Logika yang berbasis rasionalitas mestinya mengabaikan perasaan. Sesuatu yang sentimental – berkaitan dengan maskulinitas. Karena sejatinya perempuan adalah sumber kehidupan. Ia tak bisa dijadikan “musuh”. Apapun alasannya. Ia “pembawa awal” dan duniapun ada.