Memori kolektif kita juga merekam dengan pasti sepak terjang Martha Cristina Tiahahu. Gadis pemberani asal Abubu Nusa Laut. Ia puteri dari Kapitan Paulus Tiahahu. Saat berusia 17 tahun, Cristina ikut ayahnya dalam perang Pattimura. Tak hanya angkat senjata melawan Belanda, Ia kerap berkeliling mendorong kaum perempuan untuk ikut melawan penjajah. Ia jadi api yang membakar semangat pasukan Pattimura. Saat tertangkap dan hendak dibawa ke Batavia, Cristina mogok makan. Kesehatannya memburuk di atas kapal Belanda. Pahlawan Nasional ini meninggal saat berusia 18 tahun. Jenazahnya dilepas Belanda di laut Banda.
Sejarah dengan versi yang sedikit berbeda juga dituliskan untuk Toean Poetri Radja Fatimah. Menurut Pramoedya Ananta Toer, puteri Sultan Bacan lulusan MULO ini yang akrab disebut Boki Fatimah, adalah jurnalis perempuan hebat. Pernikahannya dengan Tirto Adhi Soerjo pada 6 Februari 1906, yang membuat Boki Fatimah bersentuhan dengan kerja jurnalisme. Tirto adalah pendiri Sarekat Dagang Islam. Ia juga yang mendirikan dan memimpin surat kabar “Medan Prijaji” di Bandung pada Januari 1907. Salah satu pemilik saham terbesar adalah Oesman Syah, kakak ipar Tirto. Tanpa Boki Fatimah dan Oeman Syah, Medan Prijaji mungkin hanya sebatas mimpi Tirto dan tak menjadi surat kabar pribumi yang begitu menakutkan Belanda.




