Peyempuan

oleh -66 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Bom dan surat. Dua kata ini diperbincangkan secara menyedihkan setelah dua teror terjadi berdekatan dalam sepekan. Di antara keduanya, ada perempuan yang “disalahkan”. Salah disini bukan lawan dari benar. Ia hanya semacam bentuk yang disamarkan. Tak berujung. Penuh sengkarut yang memilin dalam enigma. Tak ada yang bisa menebak apa gerangan yang melintas di pikiran Zakiah saat “menyerang” markas polisi. Seturut yang sama kala Yogi yang tengah hamil muda berboncengan dengan suaminya “meledakkan diri” di depan gereja.

Bagi Sidney Jones, keterlibatan perempuan dalam teror entah sendirian atau berkelompok menunjukan jika mereka bukan lagi yang lemah. Ada “pemberontakan” melawan realisme sosial yang berpendar ; perempuan kadung disalahkan. Termarjinalkan. Jadi “obyek” yang direndahkan. Siti Musdah Mulia, guru besar bidang lektur keagamaan yang juga ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender menyebut tiga alasan perempuan rentan terlibat terorisme. Pertama, rendahnya tingkat literasi menyebabkan mereka terbelenggu dalam pemahaman yang bias gender dan mudah terpengaruh doktrin ideologi patriarki serta interpretasi yang radikal.

Kedua, pemahaman keagamaan yang eksklusif melahirkan sikap dan perilaku intoleran yang membuat mereka dipenuhi rasa permusuhan dan kebencian terhadap orang yang berbeda. Dan ketiga, rasa teralienasi dan tersingkirkan dari kelompoknya membuat mereka tidak punya banyak pilihan dalam hidup. keterdesakan ekonomi dan masalah sosial turut memperkeruh. Ujungnya adalah “pemberontakan” yang justru semakin menyudutkan ke-perempuan-an. Bom bunuh diri dan kisah-kisah kekerasan seperti comberan yang memadamkan kandil kemanusiaan. Meninggalkan jejak buram penuh stigma dan diskriminasi. Mengulang mitos-mitos pilu yang membersamai peradaban.

Link Banner

Dalam mitologi Yunani, hiduplah seorang dewi cantik yang menarik banyak mata. Namanya Medusa. Ia seorang pendeta yang kesehariannya bekerja di kuil. Suatu ketika, Poseidon – dewa yang menguasai lautan jatuh hati. Matanya menerawang penuh nafsu. Medusa lalu diperkosa. Sadar kuilnya kotor, Athena malah menyalahkan Medusa. Poseidon tak tersentuh. Perempuan jelita itu dikutuk menjadi monster. Tak ada laki-laki yang akan meliriknya. Rambutnya diubah jadi juntaian ular- ular berbisa. Netra siapapun yang melihat Medusa secara langsung akan jadi batu.

Jess Zimmerman, penulis buku “Women and other monsters : building a new mytology” menyebut, cerita-cerita perempuan kebanyakan dimitoskan sebagai yang jahat, licik, berwajah cantik namun menipu dan kadang terlalu pintar berburu kuasa. Semua cerita itu dikonstruksi oleh laki-laki. Berawal dari ketakutan mereka. Yunani yang jadi sentral kebudayaan masa renaissance berkontribusi menyebar mitos berisi ‘ketakutan” itu ke berbagai negara. Berkelindan dengan cerita-cerita lokal. Kuntilanak dan “puntiana” misalnya, semuanya perempuan. “Ada ketakutan laki laki akan kehilangan peran dan kedigdayaan. makanya perempuan dibuat jadi seram”.

Baca Juga  Laut Banda Sumber Terbesar Tuna Dunia

Sebuah pengingkaran yang terus dipelihara. Mengabaikan kemanusiaan yang penuh cinta dan kesetaraan. “Ketakutan adalah musuh logika”, begitu menurut Frank Sinatra. Logika yang berbasis rasionalitas mestinya mengabaikan perasaan. Sesuatu yang sentimental – berkaitan dengan maskulinitas. Karena sejatinya perempuan adalah sumber kehidupan. Ia tak bisa dijadikan “musuh”. Apapun alasannya. Ia “pembawa awal” dan duniapun ada.

Dulu kita punya banyak perempuan hebat yang lahir dan memimpin seiring kejayaan peradaban. Entitas keperempuanan yang hebat itu dinarasikan dalam keyakinan dan kebudayaan. Kosmologi orang-orang Maluku misalnya, menempatkan perempuan dalam kasta tertinggi. Ia “dihormati” dalam mitos dan keyakinan. Pulau Seram yang besar itu dinamakan Nusa Ina – pulau Ibu. Sebuah simbol pengingat darimana kehidupan bermula. Dan karenanya, patut mendapat penghormatan dalam laku dan nilai-nilai yang dipeluk erat.

Ketika orang-orang Halmahera yang “terusir” karena perang mendatangi pulau Ternate, mereka membentuk koloni dan mendiami sebuah dataran tinggi di lereng Gamalama. Dari situ peradaban Ternate bermula. Pemimpin koloni itu adalah perempuan. Sebagaimana penyebutan gelar untuk pemimpin itu – “momole”. Momole dibentuk dari dua suku kata ; “mo” dan “mole”. Mole disini berarti kekuatan atau kebesaran. Mo adalah kata sifat yang menunjukan ke-perempuan-an. Dalam tafsir Ternate, Ia menjadi penanda sesuatu yang spesial. Menegasi keberpihakan pada perempuan atau Ibu.

Momole lebih mencerminkan wajah kepemimpinan yang merangkul dan melindungi. Dengan itu, perempuan bernama Guna yang belakangan dicatat sebagai momole Guna memerintah koloni Tabona dengan bijak. Guna kemudian menyerahkan kepemimpinannya ke momole Matiti di Foramadiyahi. Sejarah menulis, kelak jabatan momole itu berpindah ke tangan Cico yang mendiami kawasan syampalo. Cico atas persetujuan Guna dan Matiti kemudian mendirikan kerajaan Ternate dan mengganti namanya menjadi Mashur Malamo pada tahun 1257.

Memori kolektif kita juga merekam dengan pasti sepak terjang Martha Cristina Tiahahu. Gadis pemberani asal Abubu Nusa Laut. Ia puteri dari Kapitan Paulus Tiahahu. Saat berusia 17 tahun, Cristina ikut ayahnya dalam perang Pattimura. Tak hanya angkat senjata melawan Belanda, Ia kerap berkeliling mendorong kaum perempuan untuk ikut melawan penjajah. Ia jadi api yang membakar semangat pasukan Pattimura. Saat tertangkap dan hendak dibawa ke Batavia, Cristina mogok makan. Kesehatannya memburuk di atas kapal Belanda. Pahlawan Nasional ini meninggal saat berusia 18 tahun. Jenazahnya dilepas Belanda di laut Banda.

Baca Juga  Balai KSDA Maluku Menerima Penyerahan 3 Ekor Burung Nuri Maluku

Sejarah dengan versi yang sedikit berbeda juga dituliskan untuk Toean Poetri Radja Fatimah. Menurut Pramoedya Ananta Toer, puteri Sultan Bacan lulusan MULO ini yang akrab disebut Boki Fatimah, adalah jurnalis perempuan hebat. Pernikahannya dengan Tirto Adhi Soerjo pada 6 Februari 1906, yang membuat Boki Fatimah bersentuhan dengan kerja jurnalisme. Tirto adalah pendiri Sarekat Dagang Islam. Ia juga yang mendirikan dan memimpin surat kabar “Medan Prijaji” di Bandung pada Januari 1907. Salah satu pemilik saham terbesar adalah Oesman Syah, kakak ipar Tirto. Tanpa Boki Fatimah dan Oeman Syah, Medan Prijaji mungkin hanya sebatas mimpi Tirto dan tak menjadi surat kabar pribumi yang begitu menakutkan Belanda.

Sang Boki juga berkarir sebagai redaktur di surat kabar Poetri Hindia. Mengikuti suaminya yang jurnalis itu. Ia adalah bulan sekaligus matahari bagi Tirto yang terus bergerak menentang Belanda baik lewat tulisan-tulisan bernasnya di Medan Prijaji atau sokongan pergerakan berbasis ekonomi lewat Sarekat Dagang. Daniel Dhakidae, Direktur Prisma Resource Center, menilai Boki Fatimah adalah sebagian dari kaum terpelajar yang gigih membangkitkan kesadaran nasional untuk merdeka. Mereka bisa dikata menjadi kelompok intelektual organik. Kelompok yang dalam pandangan Antonio Gramsci, bersedia menumbuhkan kesadaran kelas dan memantik semangat pergerakan yang revolusioner.

Semangat yang menginspirasi itu mestinya jadi pengingat ketika perempuan didiskusikan dengan nalar yang konklusif. Ketika tapak mereka telah menjejaki begitu banyak kemajuan, menjadi sebuah kemunduran jika perempuan membiarkan dirinya jadi subyek yang terus digunjingkan dengan narasi-narasi destruktif. Yang bukan perempuan membiarkan pergunjingan itu sambil tersenyum menang. Kita – kelompok yang penuh ketakutan mestinya juga melihat sejarah dengan netra yang jujur. Kita tak mesti terjabak pada semacam identitas yang sumir – sesuatu yang menampilkan perbedaan – ada perbandingan seturut tekstur identifikasi yang terus-menerus difragmenkan. Memandang perempuan dalam lanskap yang buram. Menolak mengakui kontingensi dan muncullah sikap fundamentalis. Sebuah sikap yang melahirkan kelompok yang takut terhadap gerak sejarah yang menyanjung perempuan.

Baca Juga  Kunjungi Koramil 1504-05/Leihitu, ini Pesan Danrem 151/Binaiya

James Baldwin, penulis Afro-Amerika itu menyebut “sebuah identitas dipertanyakan hanya ketika Ia terancam, seperti yang berkuasa mulai runtuh atau ketika orang tertindas mulai bangkit atau ketika orang asing melintasi gerbang”. Identitas perempuan tak bisa dihapus begitu saja. Keberadaan mereka mengubah wajah dunia. Wajah kita semua. “Di seluruh dunia, ada banyak contoh perempuan yang bangkit dan menjadi pemimpin, menentukan takdirnya di tangan mereka sendiri dan menginspirasi kita semua,” begitu penegasan aktris perempuan terkenal, Angelina Jolie.

Kesadaran inilah yang membuat Presiden Joe Biden menempatkan begitu banyak perempuan di kabinetnya. Bukan sebagai pembantu yang melengkapi kuasa. Perempuan di samping Biden adalah mereka dengan kualitas mumpuni. Dipercaya akan memberi dampak yang masif bagi masa depan Amerika. Ada Jante Yellen sebagai Menteri Keuangan, Gina Raimondo sebagai Menteri Perdagangan dan Katherine Tai yang mengurusi Perwakilan Dagang. Ketiga perempuan ini akan memfokuskan kerja pada program “ekonomi perlindungan” dengan anggaran ratusan miliar dollar. Program ini akan mendukung perluasan lapangan pekerjaan yang merawat anak-anak dan warga lanjut usia. Lapangan pekerjaan yang akan banyak merekrut partisipasi perempuan.

Yang lebih membanggakan adalah capaian Uni Emirat Arab. Negeri kaya ini sukses mengorbitkan satelit mereka – Amal – untuk mengawasi sekaligus menginvasi penelitian di planet Mars. Dengan harta berlimpah. para Sheikh penguasa rupanya tak lagi berbisnis atau mengurus klub sepakbola. Mereka sudah memasang target akan membangun koloni di Mars pada tahun 2117. Tiga tahun ke depan, saat kita sibuk mendebat sistim pemilu yang tak pernah selesai, UEA akan mengorbitkan pesawat ruang angkasa tanpa awak di Bulan.

Awal pekan kemarin Perdana Menteri UEA, Sheikh Muhammed Bin Rashid Al Maktoum telah meretas sebuah capaian yang mengabaikan gender : “Kami mengumumkan astronot perempuan Arab pertama. Di antara dua astronot baru yang dipilih dari 4000 pelamar untuk dilatih bersama NASA untuk misi eksplorasi angkasa di masa depan”.

Perempuan yang terpilih itu bernama Noura Al Matrooshi. Astnonot berhijab pertama yang akan menatap bumi dari kejauhan sebagai benda bulat yang setia menjemput kehancuran. (*)