Peyempuan

oleh -118 views

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Bom dan surat. Dua kata ini diperbincangkan secara menyedihkan setelah dua teror terjadi berdekatan dalam sepekan. Di antara keduanya, ada perempuan yang “disalahkan”. Salah disini bukan lawan dari benar. Ia hanya semacam bentuk yang disamarkan. Tak berujung. Penuh sengkarut yang memilin dalam enigma. Tak ada yang bisa menebak apa gerangan yang melintas di pikiran Zakiah saat “menyerang” markas polisi. Seturut yang sama kala Yogi yang tengah hamil muda berboncengan dengan suaminya “meledakkan diri” di depan gereja.

Bagi Sidney Jones, keterlibatan perempuan dalam teror entah sendirian atau berkelompok menunjukan jika mereka bukan lagi yang lemah. Ada “pemberontakan” melawan realisme sosial yang berpendar ; perempuan kadung disalahkan. Termarjinalkan. Jadi “obyek” yang direndahkan. Siti Musdah Mulia, guru besar bidang lektur keagamaan yang juga ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender menyebut tiga alasan perempuan rentan terlibat terorisme. Pertama, rendahnya tingkat literasi menyebabkan mereka terbelenggu dalam pemahaman yang bias gender dan mudah terpengaruh doktrin ideologi patriarki serta interpretasi yang radikal.

Baca Juga  Studi Sebut Perceraian Bisa Diprediksi dengan Dua Pertanyaan Sederhana

Kedua, pemahaman keagamaan yang eksklusif melahirkan sikap dan perilaku intoleran yang membuat mereka dipenuhi rasa permusuhan dan kebencian terhadap orang yang berbeda. Dan ketiga, rasa teralienasi dan tersingkirkan dari kelompoknya membuat mereka tidak punya banyak pilihan dalam hidup. keterdesakan ekonomi dan masalah sosial turut memperkeruh. Ujungnya adalah “pemberontakan” yang justru semakin menyudutkan ke-perempuan-an. Bom bunuh diri dan kisah-kisah kekerasan seperti comberan yang memadamkan kandil kemanusiaan. Meninggalkan jejak buram penuh stigma dan diskriminasi. Mengulang mitos-mitos pilu yang membersamai peradaban.