Pulau Tiga Diproyeksikan Jadi Model PLTS Wilayah Terpencil
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut revitalisasi PLTS Pulau Tiga sebagai bukti bahwa kolaborasi pemerintah, mitra internasional, dan PLN dapat menghadirkan akses energi berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah terpencil.
“Dengan adanya PLTS berkapasitas 75 kWp yang dilengkapi baterai, kami berharap kebutuhan listrik masyarakat dapat terpenuhi selama 24 jam. Dengan demikian, perekonomian masyarakat setempat diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang,” ujar Eniya.
Menurut Eniya, keberlanjutan fasilitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pembangkit menghasilkan listrik. Kapasitas masyarakat dalam menggunakan dan merawat fasilitas tersebut juga menjadi bagian penting.
Karena itu, program revitalisasi turut disertai pelatihan kepada masyarakat mengenai pemanfaatan dan perawatan fasilitas PLTS serta penggunaan listrik secara baik dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut penting untuk wilayah kepulauan. Sebab, keberhasilan sebuah pembangkit tidak hanya diukur dari berapa besar kapasitas listrik yang terpasang, tetapi juga dari seberapa lama fasilitas tersebut mampu bertahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Konsep pembangkit ini diharapkan dapat menjadi salah satu model yang dikembangkan dalam program 100 GW PLTS, khususnya untuk wilayah terpencil dan terluar seperti pulau ini. Kami juga berharap fasilitas ini dapat beroperasi secara optimal dan memiliki usia pakai yang panjang,” tambah Eniya.









