Pulau Tiga dengan demikian tidak hanya menjadi titik pelayanan listrik bagi sekitar 120 jiwa. Pulau kecil tersebut juga menjadi contoh bagaimana energi matahari dapat dipadukan dengan sistem baterai dan pembangkit diesel cadangan untuk menciptakan layanan listrik yang lebih andal.
Bagi Maluku yang memiliki ribuan pulau dengan karakter geografis yang menantang, model seperti ini memiliki arti strategis.
Ketika listrik mampu hadir 24 jam dengan memanfaatkan sumber energi yang tersedia secara lokal, manfaatnya tidak berhenti pada penerangan rumah. Ia dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya usaha masyarakat, memperluas aktivitas ekonomi, mendukung layanan sosial, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Revitalisasi PLTS Pulau Tiga akhirnya membawa satu pesan penting: transformasi energi di wilayah kepulauan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Ia dapat dimulai dari sebuah pulau kecil, ketika teknologi, kolaborasi, dan kapasitas masyarakat bergerak dalam arah yang sama.
Dan dari Pulau Tiga, listrik bersih kini menyala 24 jam—membuka peluang baru bagi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan keterbatasan energi.
(Keket)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com











