Polres Kepulauan Sula Akui, CV. Azzahra Karya Tebang Kayu Atas Perintah Ali Umasangaji

oleh -75 views
Link Banner

Porostimur.com, Sanana – Polres Kepulauan Sula, Polda Maluku Utara mengatakan, perusahaan CV. Azzahra Karya melakukan penebangan kayu di areal kilometer (KM) 8, kawasan hutan Desa Capalulu, Kecamatan Mangoli Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, atas permintaan dari Ali Umasangaji.

Hal ini diakui langsung oleh Kaur Bina Ops (KBO) AIPDA Lajaya Muhidin kepada wartawan Senin (3/1/2022).

Menurut Lajaya, pihak perusahan bekerja berdasarkan izin, hanya karena ada permintaan pemilik lahan Ali Umasangaji untuk melakukan penebangan kayu di dalam areal miliknya makan pihak perusahaan pun berniat membantu.

Lajaya menjelaskan, rencananya Ali Umasangaji akan menanam pohon cengkeh di areal lahan miliknya, namun bila dikerjakan sendiri akan memakan waktu dan biaya, sehingga Ali meminta pihak perusahaan untuk melakukan penebangan dan pembersihan areal.

“Sudah berulang-ulang beliau melakukan permintaan ke pihak perusahaan, maka dibuatlah surat pernyataan tulis tangan kemudian ditanda tangani oleh dia,” ujar Lajaya.

Baca Juga  APRI Desak KPK Usut Kasus Korupsi Bupati Kepulauan Sula

Ditanya soal gugatan sejumlah masyarakat dan pemerintah Desa Capalulu terkait kasus tersebut, Lajaya mengatakan, pihak kepolisian tidak mau masuk sampai ke situ karena itu wilayah perdata.

“Artinya kalau memang sekarang Om Ali klaim dia punya lokasi dan kemudian ada pemerintah desa Capalulu dan beberapa orang masyarakat juga mengklaim itu lahan desa. Nah ini menjadi persoalan perdata bagi mereka untuk menyelesaikan ke pengadilan,” ungkapnya.

Lajaya bilang, yang dilihat pihak kepolisian sekarang terhadap permintaan, karena menurut Ali Umasangaji bahwa lahan tersebut miliknya secara turun-temurun, yakni dari orang tuanya, turun ke dia dan dia meminta ke pihak perusahaan untuk melakukan penebangan kayu di situ.

“Namum sebelum itu dilakukan, Ali meminta pihak perusahaan untuk membuat jalan kemudian memperbaiki jembatan yang sudah rusak,” bebernya.

Baca Juga  1.028 Kader HMI Geng Makassar Serbu Kongres di Surabaya, Akbar Tanjung Keluarkan Ultimatum

KBO Reskrim Polres Kepsul tersebut mengatakan, sejauh ini polisi juga belum melihat apakah pihak perusahaan melakukan penebangan dalam rangka produksi atau tidak, karena mereka baru melakukan pekerjaan sudah dicegah oleh masyarakat, sehingga ada beberapa kayu yang ditebang untuk membuat jembatan sampai sekarang pun belum bisa dimanfaatkan karena dicegah oleh masyarakat.

“Untuk proses hukum kami sementara melakukan pendalaman, melakukan penyelidikan dan ternyata di situ ada tindak pidana tentang kehutanan yang jelas kami akan tindak lanjut secara prosedural. Namun sebaliknya kalau ternyata dari hasil penelurusuran dan penyelidikan kami dan ternyata tidak memenuhi unsur maka harus dihentikan,” beber Lajaya.

Lajaya menjamin proses penelusuran pihak kepolisian tetap transparan, dalam rangka melakukan pengawasan terhadap kerja-kerja penyidik.

“Saya pastikan bahwa kami kerja profesional, kami tidak punya tendensi apa-apa, tidak punya kepentingan apa-apa semata-mata yang kami bawa adalah proses penegakan hukum,” pungkasnya.

Baca Juga  Peduli Bencana Masamba, Laznas LMI akan Salurkan Hewan Kurban

Sementara itu, salah seorang warga Desa Capalulu, binisial S membantah pernyatan KBO Reskrim Polres Sula AIPDA Lajaya Muhidin. Menurut dia, penebangan kayu di areal KM 8 adalah ilegal logging karena perusahan beroperasi di luar izin areal.

Oleh karena itu, dia meminta kepada pihak Polres Kepulauan Sula agar segera menangkap oknum pelaku dugaan pembalakan liar atau dugaan ilegal loging di wilayah km 8.

“Soal Om Ali yang minta perusahan beroperasi di KM 8 itu urusan perdata dan penebangan kayu di luar ijin itu pidana yang harus ditindak-lanjuti. Karena kayu di KM 8 bukan untuk pembuatan jembatan, tetapi kayu yang akan dijual oleh perusahaan,” tukasnya. (red)

No More Posts Available.

No more pages to load.