Padahal pendidikan bukan panggung improvisasi. Ia membutuhkan arah yang stabil, perencanaan jangka panjang, kesiapan anggaran, serta tenaga pengajar yang memadai. Sebuah bahasa tidak dapat tiba-tiba masuk ruang kelas hanya karena terdengar indah dalam forum bilateral. Di belakang satu mata pelajaran, ada rantai panjang yang harus dipersiapkan: kurikulum, buku ajar, pelatihan guru, hingga relevansinya terhadap kebutuhan nasional.
Ironinya, di saat banyak sekolah di daerah masih kekurangan guru dan menghadapi ketimpangan mutu pendidikan, negara justru tampak sibuk menambah daftar bahasa asing baru. Bahasa Inggris yang sejak lama menjadi kebutuhan global saja belum diajarkan secara merata dengan kualitas memadai. Namun negara seperti ingin melompat pada simbol-simbol internasionalisme tanpa terlebih dahulu menata fondasi pendidikan yang paling dasar.
Di titik inilah politik deklaratif bekerja. Sebuah pernyataan diumumkan di depan publik, terdengar besar dan modern, lalu dibiarkan menggantung tanpa kepastian pelaksanaan. Politik semacam ini menjadikan ucapan seolah identik dengan kerja nyata. Padahal dalam kebijakan publik, yang menentukan bukan kemegahan pernyataan, melainkan kemampuan mewujudkannya secara masuk akal dan terukur.












