Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Sebuah lembaga survey mengeluarkan temuannya. Menurut yang saya baca di media, kalau pemilihan presiden dilakukan sekarang ini, Prabowo Subianto akan menjadi presiden.
Survey ini menyigi 1,220 responden. Mereka mengajukan 42 nama yang pantas menjadi presiden. Dari semua nama itu, Prabowo mendapat 21,5%; Ganjar Pranowo 12,6%; Anies Baswedan 12%.
Selanjutnya Sandiaga Uno mendapat 5,5%; Ridwan Kamil 4,4%; Ahok 4,3%; AHaY 3,2%. Sementara Mensos Risma 2,9% dan Megawati 2,4%.
Saya tertarik dengan kesimpulan survey ini. Apakah, kalau mengikuti logika penelitian survey ini, Prabowo Subianto otomatis menjadi presiden? Tentu tidak. Dia memang mendapat suara terbanyak. Namun tidak akan ada orang menjadi presiden hanya dengan 21,5%.
Kuat dugaan saya, survey semacam ini dibuat untuk memancing perhatian. Dan media dengan riang gembira menangkapnya. Seolah-olah preferensi publik mengarah ke Prabowo.
Kita baru berada pada pertengahan tahun 2021. Namun perdebatan tentang pemilihan presiden sudah mulai menghangat. Para politisi bermanuver. Media massa memanaskan. Lembaga-lembaga survey memakainya untuk mengiklankan dirinya sendiri.




