Bekerjanya mesin kekuasaan untuk pemenangan Prabowo-Gibran mulai dari keterlibatan beberapa menteri, penjabat kepala daerah hingga kepala desa disertai iming-iming berupa pembagian bantuan sosial dan adanya intimidasi dan ancaman kriminalisasi kepala desa agar memobilisasi suara Prabowo-Gibran.
Wajar bila banyak pihak heran perolehan suara paslon Prabowo-Gibran mencapai 58,91 persen mengaitkan dengan intervensi kekuasaan yang dimotori oleh Presiden Jokowi untuk memenangkan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden.
Sebagai bahan kajian. Sebelum Prabowo berpasangan dengan Gibran, elektabilitas Prabowo Subianto menurut survei sebelum Agustus 2023 hanya 24,6 persen. Mulai Oktober 2023 saat Prabowo Subianto berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka naik diatas 30 persen dan terus melejit sampai di angka 51,8 persen di Februari 2024 sebelum hari pencoblosan.
Dengan menyandingkan survei antara sebelum dengan sesudah adanya intervensi kekuasaan, terdapat kenaikan tidak wajar, yaitu sebesar 34 persen hanya dalam kurun waktu 5 bulan terhitung sejak Oktober 2023 sampai dengan Februari 2024.
Akankah Prabowo-Gibran didiskualifikasi seperti tuntutan paslon 01 dan 03? Kita tunggu 22 April 2024, Insyaallah.









